Menurun Sampan Tradisi Masyarakat Pesisir Rokan Hilir Sarat Kearifan Lokal
- 31 Agt 2026 16:25 WIB
- Pekanbaru
RRI. CO. ID, Pekanbaru - Menurun Sampan merupakan salah satu tradisi budaya masyarakat pesisir dan nelayan di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Tradisi ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang sejak dahulu menggantungkan aktivitas ekonomi, transportasi, dan mata pencaharian pada sungai serta laut.
Dalam kajian tentang kearifan tradisional masyarakat nelayan Rokan Hilir, Menurun Sampan disebut sebagai salah satu upacara sakral yang diwariskan dalam kehidupan masyarakat Melayu Rokan Hilir.
Dikutip dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi/Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Keberadaan tradisi ini tidak dapat dilepaskan dari hubungan erat masyarakat Rokan Hilir dengan perairan. Sungai Rokan, misalnya, sejak dahulu menjadi jalur transportasi sekaligus tempat masyarakat mencari ikan, sedangkan wilayah muaranya terhubung dengan kawasan laut dan Selat Melaka.
Sampan karena itu bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga bagian dari kehidupan dan kebudayaan masyarakat pesisir. Keahlian membuat sampan dan kapal tradisional bahkan diwariskan secara turun-temurun dan digunakan untuk menangkap ikan, mengangkut barang hingga menjadi sarana transportasi antarpulau.
Dalam pelaksanaannya, menurun Sampan pada prinsipnya berkaitan dengan persiapan sebuah sampan sebelum digunakan oleh masyarakat untuk menjalankan aktivitas di sungai atau laut. Rangkaian kegiatan dapat diawali dengan mempersiapkan sampan dan perlengkapan yang diperlukan, kemudian dilanjutkan dengan doa atau kegiatan adat yang dipimpin oleh tokoh yang dituakan dalam masyarakat.
Unsur doa dan permohonan keselamatan menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat nelayan Rokan Hilir, sebagai bentuk harapan agar perjalanan dan aktivitas mencari nafkah di perairan diberikan keselamatan serta dijauhkan dari marabahaya. Karena pelaksanaannya berkembang secara turun-temurun, bentuk dan kelengkapan upacara dapat memiliki variasi di masing-masing wilayah.
Tradisi Menurun Sampan juga memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat. Pelaksanaannya melibatkan pemilik atau keluarga nelayan, orang-orang yang memiliki pengetahuan mengenai sampan, tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat sekitar. Peralatan utamanya tentu berupa sampan, sementara perlengkapan pendukung dapat disesuaikan dengan adat dan kebiasaan setempat, termasuk perlengkapan untuk doa atau kenduri.
Nilai terpenting yang diwariskan bukan hanya benda atau prosesi, tetapi juga sikap gotong royong, penghormatan kepada orang tua dan tokoh adat, serta kesadaran bahwa sungai dan laut merupakan ruang kehidupan yang harus dijaga. Hal ini sejalan dengan kajian tentang masyarakat Rokan Hilir yang menempatkan sungai sebagai bagian penting dari kehidupan ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.
Saat ini, pelestarian Menurun Sampan menghadapi tantangan perubahan zaman, berkurangnya ketergantungan masyarakat terhadap transportasi tradisional, serta perubahan lingkungan perairan. Karena itu, generasi muda memiliki peran penting untuk mengenal, mendokumentasikan, dan mempelajari makna tradisi tersebut dari para tetua masyarakat.
Pelestarian dapat dilakukan melalui kegiatan budaya, dokumentasi sejarah lisan, pengenalan di lingkungan pendidikan, festival budaya, serta keterlibatan pemuda dalam kegiatan masyarakat. Dengan cara itu, Menurun Sampan tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap menjadi identitas budaya masyarakat pesisir Rokan Hilir yang mengingatkan generasi sekarang tentang hubungan manusia, sungai, laut, dan lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....