Peran Raja Ali Haji dalam Membentuk Bahasa Persatuan di Pulau Penyengat
- 27 Agt 2026 14:42 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, merupakan salah satu tempat penting dalam sejarah perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi salah satu fondasi Bahasa Indonesia. Pada abad ke-19, pulau kecil ini berkembang sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga sekaligus pusat kebudayaan, pendidikan, keagamaan, kesusastraan, dan tradisi penulisan Melayu.
Salah satu tokoh paling penting dalam perjalanan tersebut adalah Raja Ali Haji. Ia dikenal sebagai ulama, pujangga, sejarawan, dan cendekiawan yang lahir dan tumbuh di Pulau Penyengat. Melalui pemikiran dan karya-karyanya, Raja Ali Haji memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan tata bahasa dan perkamusan Melayu. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2004 atas jasa-jasanya dalam bidang bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan.
Peran Raja Ali Haji dalam bidang kebahasaan terlihat melalui karya Bustanul Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa. Bustanul Katibin membahas berbagai aspek tata bahasa dan ejaan Melayu, sedangkan Kitab Pengetahuan Bahasa merupakan karya perkamusan yang memberikan perhatian terhadap kosakata dan penggunaan bahasa Melayu. Kajian Harimurti Kridalaksana yang diterbitkan dalam repositori Kementerian Pendidikan juga menempatkan kedua karya tersebut sebagai sumbangan penting Raja Ali Haji dalam ilmu bahasa Melayu.
Selain karya kebahasaan, Raja Ali Haji juga menghasilkan karya sastra yang sangat terkenal, yaitu Gurindam Dua Belas. Karya tersebut bukan hanya memiliki nilai sastra, tetapi juga memperlihatkan kekayaan bahasa Melayu pada masa itu. Tradisi penulisan yang berkembang di Pulau Penyengat menjadikan bahasa Melayu memiliki ruang untuk digunakan dalam karya sastra, keagamaan, sejarah, dan berbagai tulisan intelektual.
Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, bahasa Melayu memiliki peran sebagai bahasa perhubungan yang digunakan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang. Ketika gagasan mengenai persatuan Indonesia berkembang pada awal abad ke-20, bahasa Melayu dipilih dan kemudian dikenal sebagai Bahasa Indonesia
Pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, para pemuda mengikrarkan penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda. Dengan demikian, Bahasa Indonesia tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan memiliki akar sejarah panjang dalam perkembangan bahasa Melayu.
Karena itu, menyebut Pulau Penyengat dalam sejarah Bahasa Indonesia berarti mengingat salah satu pusat penting perkembangan bahasa Melayu dan tradisi intelektual Nusantara. Kontribusi Raja Ali Haji terutama melalui pembinaan tata bahasa, perkamusan, dan karya sastra menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Warisan itu menjadikan Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata sejarah, tetapi juga tempat yang memiliki nilai penting dalam sejarah kebahasaan Indonesia. Secara historis, lebih tepat mengatakan bahwa Pulau Penyengat merupakan salah satu pusat penting perkembangan bahasa Melayu yang menjadi dasar Bahasa Indonesia, bukan bahwa Bahasa Indonesia secara harfiah “lahir” di Pulau Penyengat. Hal ini penting agar artikel tetap akurat secara sejarah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....