Daulat Tuan Ku Semah Antau Semah Nagoghi Warisan Masyarakat Kampar Kiri Hulu Riau

  • 26 Agt 2026 15:50 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CI.ID, Pekanbaru - Tradisi Daulat Tuan Ku atau Semah Antau Semah Nagoghi merupakan salah satu warisan budaya masyarakat adat Kenegerian Malako Kociak, Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Tradisi ini menjadi ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan kepada Allah SWT serta bentuk penghormatan masyarakat terhadap alam, khususnya hutan dan sungai.

Semah Nagoghi berkaitan dengan penghormatan terhadap kehidupan di hutan, termasuk harimau, sedangkan Semah Antau berkaitan dengan sungai dan keselamatan masyarakat ketika beraktivitas di dalamnya. Desa Tanjung Beringin sendiri dikenal sebagai wilayah yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi masyarakat yang masih hidup hingga sekarang.

Dikutip dari Kementerian Pariwisata RI, profil Desa Wisata Tanjung Beringin, Kampar Kiri Hulu, Secara turun-temurun, tradisi ini berkaitan erat dengan sejarah masyarakat Malako Kociak dan tokoh adat terdahulu, terutama Datuk Darah Putih dan Datuk Pagar, yang dipercaya sebagai tokoh penting dalam sejarah awal terbentuknya kampung. Datuk Pagar dikenal dalam cerita masyarakat sebagai tokoh yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan harimau dan menjaga hubungan antara manusia dengan alam.

Pelaksanaan Semah Antau Semah Nagoghi menjadi sarana untuk mengingat jasa para leluhur sekaligus memohon agar masyarakat dijauhkan dari bahaya ketika mencari penghidupan di hutan maupun sungai. Tradisi ini juga mengandung pesan bahwa manusia bukan penguasa tunggal atas alam, melainkan bagian dari ekosistem yang harus menjaga keseimbangan dengan makhluk hidup lainnya.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan persiapan adat dan penyambutan Raja Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan beserta permaisuri dan rombongan. Raja disambut dengan musik tradisional seperti calempong, gendang dan oguong, serta pertunjukan silat bungo. Setelah itu, raja, ninik mamak dan tokoh adat melakukan musyawarah sebelum berziarah ke makam Datuk Darah Putih dan Datuk Pagar.

Pada prosesi ziarah, dilakukan doa bersama sebagai bagian dari Semah Nagoghi. Setelah ziarah selesai, rombongan menuju dermaga dan melanjutkan perjalanan menggunakan piyau atau perahu menyusuri Sungai Subayang. Rombongan kemudian singgah di Muara Sungai Tikun, tempat yang secara historis dipercaya sebagai persinggahan raja ketika menuju wilayah hulu.

Perjalanan dilanjutkan hingga perbatasan dengan Kenegerian Gajah Bertalut, tepatnya di sekitar persimpangan Sungai Mago. Di lokasi tersebut berlangsung puncak Semah Antau, yang ditandai dengan pelarungan kepala kerbau ke sungai, dilanjutkan doa bersama dan makan bersama masyarakat sebagai penutup rangkaian kegiatan.

Pelaksanaan tradisi melibatkan banyak unsur masyarakat, mulai dari Raja Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan, ninik mamak, datuk adat, dubalang, tokoh masyarakat, kaum perempuan adat, pemuda, anak-anak hingga seluruh masyarakat kampung. Setiap unsur memiliki peran dalam menjaga kelancaran prosesi, mulai dari penyambutan, musik tradisional, silat, ziarah, penyediaan makanan, arak-arakan perahu hingga makan bersama. Pelestarian tradisi juga dilakukan melalui pelibatan seniman dan komunitas budaya.

Dalam beberapa pelaksanaan, Rumah Sunting bersama seniman Riau melakukan residensi, pertunjukan seni, dokumentasi serta melibatkan anak-anak dalam kegiatan kesenian. Upaya tersebut memperluas ruang bagi generasi muda untuk mengenal tradisi bukan hanya sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, seni dan identitas budaya.

Hingga kini, Semah Antau Semah Nagoghi masih dilaksanakan secara berkala oleh masyarakat Malako Kociak dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Tanjung Beringin. Pelestariannya tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan prosesi adat, tetapi juga melalui dokumentasi, kegiatan seni, pengenalan budaya kepada anak-anak dan keterlibatan generasi muda. Balai Bahasa Riau juga telah melakukan pemetaan sastra lisan dan praktik kebudayaan di Tanjung Beringin, termasuk mencatat Semah Antau Semah Nagoghi sebagai salah satu ritus budaya yang masih ditemukan di daerah tersebut.

Tantangan ke depan adalah perubahan gaya hidup, tuntutan ekonomi, masuknya budaya luar serta berkurangnya pemahaman terhadap nilai adat. Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar Daulat Tuan Ku tidak sekadar menjadi ritual tahunan, tetapi tetap hidup sebagai warisan pengetahuan tentang gotong royong, penghormatan kepada leluhur, keselamatan, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....