Gen Z Kampar Ajak Kenali dan Lestarikan Budaya lewat Media Sosial
- 25 Agt 2026 18:10 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Perkembangan teknologi dan media sosial dapat menjadi peluang bagi generasi muda untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya daerah. Hal ini yang juga menjadi perhatian Muhammad Rizqo Al Ihsan, Bujang II Kampar 2026, dan Hazirah Malyanah, Dara II Kampar 2026.
Dalam program Sore Ceria Programa 2 RRI Pekanbaru, keduanya berbagi cerita mengenai sejumlah tradisi Kampar yang menurut mereka perlu kembali dikenalkan kepada generasi muda.
Rizqo memperkenalkan tradisi batimang, sebuah tradisi orang tua zaman dahulu ketika menidurkan atau mengayunkan bayi. Dalam tradisi tersebut, orang tua melantunkan syair yang tidak hanya berisi ungkapan, tetapi juga pepatah, nilai-nilai kehidupan, hingga ayat Al-Qur'an.
“Tujuannya untuk mendidik anak dari kecil. Jadi tradisi batimang ini mungkin banyak yang belum tahu,” kata Rizqo.
Sementara Hazirah mengangkat tradisi batobo, yang menurutnya mulai jarang dilakukan seiring perkembangan teknologi pertanian. Batobo merupakan bentuk kerja sama masyarakat, misalnya ketika masa panen padi, dengan saling membantu mengerjakan sawah satu sama lain.
Menurut Hazirah, tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan. Batobo juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, bertukar cerita, hingga berbagi makanan antarmasyarakat.
Selain batimang dan batobo, Rizqo juga mengenalkan tradisi mencaokoi ikan di Lubuk Larangan, khususnya di kawasan aliran Sungai Subayang, Kampar Kiri Hulu. Tradisi tersebut dilakukan masyarakat pada waktu tertentu dengan menangkap ikan secara bersama-sama. Hasilnya kemudian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat dan pembangunan desa.
Ia menjelaskan, tradisi tersebut juga berkaitan dengan upaya menjaga lingkungan karena masyarakat tidak diperbolehkan menangkap ikan di kawasan tersebut setiap saat.
“Itu juga salah satu untuk melindungi lingkungan. Jadi setahun sekali mereka bersama-sama menangkap ikan,” jelas Rizqo.
Sementara itu, Hazirah mengenalkan Gubano, kesenian yang menggunakan alat musik menyerupai rebana berukuran besar. Pertunjukan tersebut dimainkan oleh beberapa orang sambil melantunkan zikir dengan gaya khas Kampar dan biasanya dapat ditemui dalam berbagai acara adat.
Menurut Rizqo dan Hazirah, berbagai budaya tersebut perlu dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan generasi muda. Salah satunya melalui media sosial yang saat ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak muda.
“Tugas kita sebagai generasi muda membuat video atau mendokumentasikan budaya tersebut kepada media sosial. Karena jika kita upload di media sosial, pasti video tersebut akan tetap ada di internet dan bisa di-searching oleh masyarakat luas,” ujar Rizqo.
Hazirah menambahkan, media sosial seharusnya tidak hanya dipandang sebagai ancaman bagi generasi muda. Platform digital juga dapat menjadi wadah untuk memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat yang lebih luas.
“Jangan kita jadikan media sosial hanya sebagai ancaman saja, tapi sebagai wadah dalam memperkenalkan budaya kita agar lebih dikenal masyarakat luas,” ungkap Hazirah.
Dalam membuat konten budaya, keduanya juga memiliki pendekatan masing-masing.
Melalui pendekatan tersebut, mereka berharap generasi muda tidak hanya mengenal budaya melalui buku atau pembelajaran formal, tetapi juga dapat menemukan informasi mengenai budaya daerah melalui konten digital yang menarik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....