Kato Nan Ampek, Warisan Santun Minang di Era Digital

  • 12 Agt 2026 00:51 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di tengah kebiasaan berkomunikasi serba cepat melalui media sosial, warisan budaya Minangkabau bernama Kato Nan Ampek mengingatkan bahwa berbicara bukan sekadar menyampaikan kata, tetapi juga soal menghargai siapa yang menjadi lawan bicara. Empat prinsip bertutur itu terdiri atas kato mandaki, kato manurun, kato mandata, dan kato malereng, yang mengatur cara berkomunikasi berdasarkan hubungan dan situasi sosial.

Berdasarkan kajian Journal of Education Research Universitas Negeri Padang, Kato mandaki digunakan ketika berbicara kepada orang yang lebih tua atau dihormati, sedangkan kato manurun digunakan kepada orang yang lebih muda dengan tetap mengedepankan kasih sayang dan sikap membimbing. Sementara kato mandata diterapkan dalam komunikasi dengan orang yang sebaya atau setara, sedangkan kato malereng menekankan penyampaian secara halus, termasuk melalui ungkapan atau kiasan. Keseluruhan konsep tersebut menjadi pedoman etika komunikasi dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Namun, perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi menjadi tantangan tersendiri bagi pelestarian nilai tersebut. Penelitian tentang penerapan Kato Nan Ampek pada generasi muda menunjukkan adanya kecenderungan sebagian anak muda semakin kurang memahami nilai budaya ini, sementara penggunaan bahasa yang dipengaruhi media sosial turut mengubah kebiasaan berkomunikasi.

Meski demikian, Kato Nan Ampek tetap relevan dengan kehidupan masa kini. Nilainya dapat diterapkan ketika anak muda berbicara dengan orang tua, guru, teman, maupun ketika berkomentar di ruang digital. Kebebasan menyampaikan pendapat tetap perlu disertai kesadaran memilih kata, menghormati perbedaan, dan menghindari ucapan yang dapat menyinggung atau merendahkan orang lain. Kajian akademik juga menempatkan Kato Nan Ampek sebagai pedoman komunikasi yang dapat memperkuat hubungan sosial dan kesantunan.

Melestarikan Kato Nan Ampek karena itu bukan berarti memaksa generasi muda meninggalkan bahasa pergaulan modern. Justru, nilai budaya tersebut dapat dihidupkan kembali melalui pendidikan, keluarga, kegiatan adat, hingga media digital yang dekat dengan anak muda. Di tengah derasnya komunikasi singkat dan spontan, Kato Nan Ampek mengajarkan satu pesan penting: kata-kata boleh sederhana, tetapi cara menyampaikannya harus tetap mencerminkan rasa hormat dan budi yang baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....