Buwong Kuayang, Jejak Pengobatan Tradisional Masyarakat Bonai

  • 30 Mei 2026 05:45 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di tengah kehidupan masyarakat Bonai di Hulu Rokan, Riau, terdapat sebuah tradisi pengobatan yang tidak hanya bertujuan menyembuhkan penyakit, tetapi juga menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam, sesama, dan dunia spiritual. Tradisi itu dikenal dengan nama Buwong Kuayang, sebuah upacara pengobatan yang telah diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang orang Bonai.

Bagi masyarakat Bonai, sakit tidak selalu dipahami sebagai gangguan fisik semata. Penyakit juga bisa muncul akibat terganggunya semangat seseorang, konflik sosial, atau hubungan yang tidak harmonis dengan makhluk gaib yang dipercaya hidup berdampingan dengan manusia. Karena itulah, pengobatan dilakukan melalui sebuah ritual khusus yang melibatkan pemanggilan roh pelindung yang disebut de'o.

Dikutip dari laman Repositori Institusi Kemendikdasmen, nama Buwong Kuayang sendiri berarti "Burung Kahyangan". Burung ini dipercaya sebagai salah satu de'o atau roh pelindung masyarakat Bonai.

Dalam budaya Melayu, burung sering menjadi simbol semangat atau jiwa manusia. Karena itu, upacara ini juga dikenal sebagai pengobatan semangat, yaitu usaha mengembalikan keseimbangan jiwa dan raga seseorang yang sedang mengalami gangguan.

Masyarakat Bonai meyakini adanya dua alam, yaitu alam nyata dan alam gaib. Alam nyata dapat dilihat dan dirasakan secara langsung, sedangkan alam gaib hanya dapat diketahui oleh orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan batin.

Makhluk-makhluk gaib dipercaya hidup layaknya manusia, memiliki keluarga dan tempat tinggal. Mereka juga diyakini dapat marah apabila tempat persemayamannya diganggu.

Tempat-tempat seperti pohon besar, hutan lebat, batu besar, atau lubuk sungai yang dalam sering dianggap sebagai lokasi tinggal makhluk gaib. Sebagian dari mereka dipercaya baik dan menjadi pelindung manusia, sementara sebagian lainnya dianggap dapat mengganggu kehidupan manusia.

Dalam pelaksanaan upacara Buwong Kuayang, tokoh yang memegang peranan utama adalah pemantan. Ia merupakan orang yang memiliki kemampuan batin untuk memanggil de'o dan memimpin seluruh rangkaian pengobatan. Karena melibatkan de'o, upacara ini juga sering disebut Badewo, yang berarti upacara yang dilakukan dengan bantuan roh pelindung nenek moyang Bonai.

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, tradisi ini berasal dari kisah nenek moyang Bonai bernama Tuk Saih Panjang Jangguik dan istrinya Uak Paneh Sopotang. Mereka dipercaya pernah memperoleh pertolongan dari de'o bernama Kolombai Bongsu ketika mengobati anak-cucu mereka yang sakit. Dari peristiwa itulah kemudian lahir berbagai lagu dan tradisi yang digunakan dalam upacara Buwong Kuayang hingga saat ini.

Ketika seseorang sakit, keluarga akan mendatangi pemantan untuk meminta bantuan. Setelah itu, keluarga bersama warga kampung akan menyiapkan berbagai perlengkapan upacara. Menariknya, penyelenggaraan Buwong Kuayang bukan hanya urusan keluarga pasien, melainkan menjadi kegiatan bersama seluruh masyarakat. Semangat gotong royong terlihat kuat karena setiap orang merasa suatu saat mereka juga akan membutuhkan bantuan yang sama.

Prosesi pengobatan memadukan unsur seni dan ritual. Di dalamnya terdapat tarian, nyanyian, mantra, permainan musik gendang, hingga keadaan trance atau kesurupan yang disebut selap. Pemantan biasanya dibantu oleh tiga orang dendayang sebagai pembantu perempuan, tujuh orang dubalang sebagai pembantu laki-laki, serta para penabuh gendang atau bidu.

Masyarakat Bonai percaya terdapat 13 roh de'o yang dapat dipanggil dalam upacara ini. Ketiga belas roh tersebut terbagi menjadi dua kelompok, yaitu delapan roh dan lima roh. Masing-masing memiliki karakter dan lagu khusus yang digunakan saat dipanggil dalam ritual.

Dalam pandangan Bonai, penyebab sakit dapat beragam. Ada yang berasal dari gangguan makhluk halus, ada pula yang muncul akibat konflik sosial antar manusia.

Misalnya seseorang yang tanpa sengaja mengganggu tempat tinggal makhluk gaib, kemudian jatuh sakit karena roh penunggu tempat tersebut merasa tersinggung. Dalam kasus seperti ini, pemantan tidak hanya mengobati pasien, tetapi juga melakukan prosesi permintaan maaf dan memberikan persembahan sebagai bentuk penghormatan.

Ada pula penyakit yang diyakini berasal dari perbuatan orang lain melalui ilmu tertentu. Dalam situasi seperti itu, pemantan akan berusaha mengembalikan semangat pasien sekaligus menghilangkan pengaruh buruk yang dipercaya dikirimkan kepadanya. Untuk memahami penyebab penyakit, pemantan tidak hanya mengandalkan kemampuan batin, tetapi juga menggali informasi tentang kehidupan pasien, hubungan sosialnya, dan berbagai peristiwa yang terjadi sebelum sakit muncul.

Karena perannya yang luas, seorang pemantan tidak hanya dianggap sebagai penyembuh. Ia juga menjadi penengah persoalan sosial dan penjaga keharmonisan masyarakat. Dalam banyak kasus, pemantan bahkan dipandang sebagai tokoh yang dihormati dan memiliki posisi penting dalam komunitas.

Buwong Kuayang pada akhirnya bukan sekadar ritual pengobatan. Tradisi ini mencerminkan cara masyarakat Bonai memandang kehidupan sebagai hubungan yang saling terhubung antara manusia, alam, sesama, leluhur, dan Sang Pencipta. Sehat atau sakit dianggap sebagai cerminan dari harmonis atau tidaknya hubungan-hubungan tersebut.

Seiring perkembangan zaman dan semakin kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Bonai, pelaksanaan ritual ini mulai mengalami perubahan. Sebagian unsur magis perlahan berkurang dan bertransformasi menjadi bentuk pertunjukan budaya. Kini muncul pula Tari Buwong Kuayang yang lebih dikenal oleh masyarakat luas dibandingkan upacara pengobatan aslinya.

Meskipun demikian, Buwong Kuayang tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Bonai. Tradisi ini menyimpan pengetahuan, nilai gotong royong, serta cara pandang masyarakat terhadap kehidupan yang patut dikenang dan dipelajari oleh generasi masa kini maupun masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....