Musik Gazal Melayu Riau Warisan Syair dan Irama Tetap Bertahan

  • 12 Mei 2026 09:00 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Musik Gazal merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Melayu di Provinsi Riau yang tumbuh dari perpaduan budaya Melayu dan Timur Tengah. Kesenian ini diperkirakan mulai berkembang di wilayah pesisir Melayu sejak abad ke-19 melalui jalur perdagangan dan penyebaran budaya Islam.

Kata “gazal” sendiri berasal dari istilah Arab “ghazal” yang berarti puisi atau syair cinta. Dalam perkembangannya di tanah Melayu, musik Gazal berubah menjadi seni pertunjukan yang memadukan nyanyian, syair, pantun, dan irama musik tradisional yang lembut serta penuh makna.

Dikutip dari Buku dan kajian tentang seni musik tradisional Melayu, Keunikan Musik Gazal Melayu Riau terletak pada paduan syair dan pantunnya yang sarat nasihat, cinta, adat, dan nilai kehidupan masyarakat Melayu. Syair yang dibawakan biasanya menggunakan bahasa Melayu klasik dengan irama mendayu-dayu sehingga menciptakan suasana tenang dan menyentuh hati.

Pantun-pantun dalam Gazal sering berisi petuah kehidupan, penghormatan kepada tamu, hingga ungkapan kasih sayang. Dalam pertunjukan tradisional, penyanyi Gazal biasanya saling berbalas pantun dengan iringan musik yang harmonis sehingga menjadi hiburan sekaligus media pendidikan budaya bagi masyarakat.

Dalam pertunjukannya, Musik Gazal menggunakan beberapa alat musik tradisional dan modern. Alat musik utama yang sering digunakan antara lain gambus sebagai pembawa melodi utama bernuansa Timur Tengah, biola untuk memperindah alunan nada, harmonium atau akordeon sebagai pengatur harmoni lagu, marwas dan rebana sebagai pengatur irama tabuhan, serta gitar sebagai pelengkap musik modern Melayu. Setiap alat musik memiliki fungsi tersendiri sehingga menghasilkan perpaduan bunyi yang lembut dan khas. Kehadiran vokalis juga menjadi unsur penting karena syair dan pantun menjadi inti utama pertunjukan Gazal.

Pada masa kejayaannya sekitar tahun 1960 hingga 1980-an, Musik Gazal sangat populer di berbagai daerah pesisir Melayu di Riau. Kesenian ini kerap ditampilkan dalam acara pernikahan adat Melayu, penyambutan tamu kehormatan, kenduri kampung, perayaan hari besar Islam, hingga festival budaya daerah.

Masyarakat pada masa itu menjadikan Gazal sebagai hiburan rakyat sekaligus simbol identitas budaya Melayu. Namun, memasuki era modern dan perkembangan musik digital, popularitas Gazal mulai berkurang karena generasi muda lebih banyak mengenal musik modern dibandingkan kesenian tradisional daerah.

Saat ini, tantangan terbesar Musik Gazal Melayu Riau adalah minimnya regenerasi pemain dan kurangnya ruang pertunjukan bagi seniman tradisional. Selain itu, pengaruh budaya populer dan perkembangan teknologi membuat minat generasi muda terhadap seni tradisi semakin menurun.

Untuk menjaga kelestarian Gazal, diperlukan dukungan pemerintah, sekolah, komunitas budaya, dan masyarakat melalui festival budaya, pelatihan seni tradisional, serta promosi di media sosial dan platform digital. Musik Gazal bukan hanya hiburan, tetapi juga warisan budaya Melayu yang mengandung nilai sopan santun, sastra, dan identitas daerah yang perlu dijaga agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....