Adat Pernikahan Melayu Siak Tetap Lestari di tengah Arus Modernisasi

  • 12 Mei 2026 06:30 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Siak - Kabupaten Siak memiliki kekayaan budaya Melayu yang masih terjaga hingga saat ini, salah satunya adalah adat pernikahan Melayu Siak. Tradisi ini berasal dari warisan budaya Kesultanan Siak Sri Indrapura yang berkembang sejak masa kejayaan kerajaan Melayu di Riau. Adat pernikahan Melayu Siak tidak hanya menjadi prosesi penyatuan dua insan, tetapi juga sarat dengan nilai sopan santun, penghormatan keluarga, serta ajaran agama Islam yang kuat dalam kehidupan masyarakat Melayu.

Dikutip dari Buku dan kajian tentang adat Melayu Riau serta sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura, Rangkaian adat pernikahan Melayu Siak dimulai dari proses merisik, yaitu tahap pencarian informasi mengenai calon mempelai perempuan oleh pihak keluarga laki-laki. Setelah itu dilanjutkan dengan prosesi meminang sebagai tanda keseriusan untuk melamar. Dalam acara ini, keluarga kedua belah pihak biasanya bermusyawarah mengenai hari pernikahan, mahar, serta adat yang akan dilaksanakan, tradisi ini mencerminkan pentingnya hubungan kekeluargaan dan mufakat dalam budaya Melayu Siak.

Menjelang hari pernikahan, dilaksanakan prosesi berinai dan berandam. Berinai merupakan tradisi menghias kuku pengantin menggunakan daun inai sebagai simbol doa keselamatan, kebahagiaan, dan kesucian rumah tangga. Sementara itu, berandam adalah prosesi membersihkan dan mempercantik calon pengantin perempuan sebelum akad nikah berlangsung. Dalam budaya Melayu Siak, kedua tradisi ini dianggap sebagai bentuk persiapan lahir dan batin bagi pasangan yang akan memasuki kehidupan baru.

Pada puncak acara pernikahan, masyarakat Melayu Siak melaksanakan tradisi tepuk tepung tawar. Upacara adat ini dilakukan dengan menepungkan campuran tepung dan air bunga kepada kedua mempelai sebagai simbol doa restu, keselamatan, dan keberkahan dalam kehidupan rumah tangga. Biasanya prosesi ini dipimpin oleh tokoh adat atau orang tua yang dihormati. Selain itu, acara juga diiringi musik kompang, pembacaan pantun Melayu, dan tarian tradisional yang menambah kemeriahan suasana pernikahan adat.

Di tengah perkembangan zaman modern, adat pernikahan Melayu Siak menghadapi berbagai tantangan. Generasi muda mulai banyak memilih konsep pernikahan praktis dan modern sehingga beberapa rangkaian adat mulai jarang dilaksanakan secara lengkap. Selain itu, pengaruh budaya luar dan biaya pelaksanaan adat yang cukup besar juga menjadi kendala dalam pelestariannya. Meski demikian, pemerintah daerah, lembaga adat, dan masyarakat terus berupaya menjaga tradisi ini melalui festival budaya, pendidikan adat Melayu, serta pelaksanaan pernikahan adat di berbagai acara budaya agar warisan leluhur Melayu Siak tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....