Perjuangan Berburu Madu Hutan Sialang di Pelalawan
- 07 Mei 2026 15:10 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Madu sialang merupakan salah satu kekayaan alam khas Riau yang hingga kini masih dijaga keberadaannya oleh masyarakat adat. Di Kabupaten Pelalawan, tradisi pengambilan madu hutan sialang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Pohon sialang sendiri adalah pohon besar dan tinggi yang menjadi tempat bersarang lebah hutan liar, terutama lebah jenis Apis dorsata. Dari pohon inilah dihasilkan madu alami berkualitas tinggi yang memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya.
Dikutip dari Dinas Kehutanan Provinsi Riau dan Balai Taman Nasional Tesso Nilo tentang ekosistem hutan di Pelalawan dan keberadaan lebah madu hutan. Proses pengambilan madu sialang tidak dilakukan sembarangan. Masyarakat biasanya menentukan waktu panen berdasarkan musim bunga dan kondisi cuaca.
Panen umumnya dilakukan pada malam hari karena lebah lebih tenang dibanding siang hari. Para pemanjat madu yang sudah berpengalaman akan mempersiapkan peralatan tradisional seperti tali, parang, dan alat pengasap dari daun kering untuk mengusir lebah secara perlahan tanpa merusak sarangnya.
Sebelum memanjat pohon sialang, biasanya dilakukan ritual adat sederhana sebagai bentuk penghormatan kepada alam. Tradisi ini dipercaya sebagai cara menjaga keselamatan para pemanjat sekaligus menjaga hubungan harmonis antara manusia dan hutan. Dalam budaya masyarakat Melayu Riau, pohon sialang dianggap memiliki nilai penting sehingga tidak boleh ditebang sembarangan.
Bahkan, ada aturan adat tertentu yang mengatur pemanfaatannya. Ketika proses panen dimulai, seorang pemanjat akan naik ke pohon yang tingginya bisa mencapai puluhan meter.
Dengan bantuan cahaya seadanya dan keberanian tinggi, pemanjat memotong bagian sarang yang telah penuh madu. Asap dari obor atau daun kering digunakan untuk mengurangi agresivitas lebah. Potongan sarang madu kemudian diturunkan menggunakan tali kepada anggota tim yang menunggu di bawah pohon.
Setelah sarang madu berhasil dikumpulkan, madu diperas secara tradisional menggunakan wadah sederhana. Masyarakat biasanya memisahkan madu murni dari lilin sarang agar kualitasnya tetap terjaga. Madu sialang dikenal memiliki rasa khas dengan aroma hutan yang kuat.
Selain dikonsumsi langsung, madu ini juga sering dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional untuk menjaga daya tahan tubuh dan mengatasi berbagai keluhan kesehatan ringan. Tradisi pengambilan madu sialang di Pelalawan tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi daya tarik budaya dan wisata alam.
Banyak orang tertarik menyaksikan langsung proses panen madu yang penuh tantangan tersebut. Aktivitas ini sekaligus memperlihatkan kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan tanpa merusak ekosistem yang ada.
Hingga kini, masyarakat di Pelalawan terus berupaya menjaga kelestarian pohon sialang dan habitat lebah hutan. Pelestarian hutan menjadi hal penting agar tradisi pengambilan madu sialang tetap bertahan untuk generasi mendatang. Madu sialang bukan sekadar hasil hutan, melainkan warisan alam dan budaya masyarakat Riau yang memiliki nilai tinggi bagi kehidupan dan identitas daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....