Joget Sonde Warisan Budaya Suku Akit Riau

  • 05 Apr 2026 20:50 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Tradisi Joget Sonde menjadi salah satu kekayaan budaya yang tak hanya memikat secara visual, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan identitas masyarakat pesisir. Tarian khas milik Suku Akit ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2016 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Laman Kebudayaan Kemdikbud memaparkan Joget Sonde berasal dari Desa Sonde, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kepulauan Meranti. Nama “Sonde” sendiri diambil dari keberadaan pohon sonde yang dahulu tumbuh melimpah di wilayah tersebut. Pohon ini menjadi sumber penghidupan masyarakat, hingga akhirnya nama Sonde melekat sebagai identitas desa sekaligus tarian yang lahir dari sana.

Tradisi ini telah diperkenalkan sejak tahun 1960-an dan berkembang di berbagai wilayah pesisir Riau, seperti Bengkalis, Siak, hingga Dumai. Dalam perkembangannya, Joget Sonde tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga ruang interaksi sosial yang mempererat hubungan antarwarga.

Pertunjukan Joget Sonde biasanya diawali saat sore hari. Tabuhan gendang oleh para lelaki menjadi penanda bahwa malam harinya akan digelar pertunjukan. Sementara itu, para gadis penari dari Suku Akit bersiap di atas rakit, merias diri dengan sederhana menggunakan bedak dan lipstik, serta mengenakan busana lengkap dengan selendang.

Ketika malam tiba, para penari naik ke daratan dan mulai menari dengan gerakan berlenggak-lenggok mengikuti iringan musik tradisional. Tarian ini berlangsung cukup lama, bahkan hingga larut malam.

Dalam suasana tersebut, para lelaki akan memilih pasangan dari para penari, ditandai dengan selendang yang dikalungkan. Momen ini menjadi bagian penting dari dinamika sosial masyarakat pesisir.

Sosok maestro seperti Cik Minah turut berperan besar dalam menjaga kelestarian tradisi ini, khususnya di wilayah Rangsang Pesisir. Perannya menjadi bukti bahwa keberlangsungan budaya sangat bergantung pada generasi yang setia merawatnya.

Lebih dari sekadar pertunjukan, Joget Sonde merefleksikan kehidupan masyarakat Suku Akit yang dekat dengan laut, sederhana, dan menjunjung tinggi kebersamaan. Tradisi ini mengingatkan bahwa budaya lokal bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk terus dihidupkan di tengah arus modernisasi.

Di tengah perubahan zaman, keberadaan Joget Sonde menjadi pengingat bahwa identitas budaya adalah akar yang harus dijaga agar tidak tercerabut, dan tetap menjadi kebanggaan generasi mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....