Sebanyak 102 Peserta Didik SMKKN Pekanbaru Dikukuhkan
- 30 Sep 2026 18:23 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru — Sebanyak 102 peserta didik Kelas X SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru Angkatan XVIII resmi dikukuhkan pada Rabu 30 September 2026. Pengukuhan dilakukan oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Kementerian Kehutanan, Dr. Tuti Herawati, S.Hut., M.Si.
Peserta didik yang dikukuhkan terdiri atas 78 putra dan 24 putri. Sebanyak 76 peserta didik berasal dari jalur reguler dan 26 peserta didik dari jalur khusus. Angkatan XVIII menggunakan identitas Buceros rhinoceros atau Rangkong Badak.
Dalam arahannya, Tuti Herawati menegaskan bahwa pengukuhan bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi awal perjalanan pendidikan selama tiga tahun untuk membentuk kompetensi sekaligus karakter calon rimbawan.
“Hari ini bukan sekadar hari pengukuhan. Hari ini adalah hari dimulainya sebuah perjalanan,” kata Tuti Herawati dalam arahannya kepada para peserta didik.
Ia menyampaikan empat bekal utama yang perlu dibangun selama menjalani pendidikan, yaitu kompetensi, karakter, kepedulian, dan kemampuan beradaptasi. Perubahan teknologi dan dunia kerja kehutanan, menurutnya, menuntut lulusan untuk terus belajar dan mampu menyesuaikan diri.
Dalam arahannya, Tuti juga menyinggung perkembangan carbon economy, biodiversity, sustainable forest management, ecological restoration, GIS, remote sensing, data, teknologi digital, dan green jobs sebagai bagian dari lanskap kehutanan masa depan.
“Saya tidak hanya mencari pekerjaan. Saya mempersiapkan kompetensi untuk menciptakan nilai,” ujarnya.
Tuti Herawati juga meminta guru, pembina asrama, dan seluruh jajaran sekolah memastikan lingkungan pendidikan menjadi tempat yang aman bagi siswa. Ia menegaskan bahwa kedisiplinan harus membentuk karakter, bukan menimbulkan ketakutan, serta tidak boleh ada bullying, kekerasan, penghinaan, maupun senioritas yang merendahkan.
Kepada para pemangku kepentingan kehutanan, Tuti mengajak agar pembinaan peserta didik tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Para siswa perlu mendapatkan pengalaman lapangan, akses teknologi, dan kesempatan memahami pengelolaan kehutanan secara langsung di tingkat tapak.
“Anak-anak ini tidak cukup hanya belajar tentang hutan dari ruang kelas. Mereka harus bertemu dengan hutannya, bertemu dengan masyarakatnya, bertemu dengan persoalannya, dan belajar mencari solusinya,” ujarnya.
Tiga Bulan Pembentukan Awal
Sementara itu, Kepala SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru, Slamet Supriyadi, S.Pd., M.Sc., menyampaikan bahwa pengukuhan menjadi peneguhan status resmi peserta didik sekaligus bagian dari proses pembentukan disiplin, tanggung jawab, kecintaan terhadap almamater, dan kesiapan mengikuti pendidikan kejuruan bidang kehutanan.
"Sebelum dikukuhkan, para peserta didik telah menjalani karantina selama tiga bulan. Dalam proses tersebut, mereka mendapatkan pembinaan dan pengembangan diri, antara lain sulap aljabar matematika, storytelling bahasa Inggris, praktik pemetaan menggunakan drone, marching band, pencak silat, dan Peraturan Baris-Berbaris," kata Slamet.
Filosofi Rangkong Badak
Pemilihan Buceros rhinoceros atau Rangkong Badak sebagai identitas Angkatan XVIII mengandung filosofi kokoh dalam pendirian, bijaksana dalam bertindak, dan setia menjaga warisan hutan. Rangkong juga dikenal berperan dalam penyebaran benih sehingga dalam konteks ekosistem hutan kerap disebut sebagai “petani hutan”.
Dengan pengukuhan tersebut, 102 peserta didik resmi memulai pendidikan sebagai bagian dari keluarga besar SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru. Mereka akan menjalani proses pendidikan dan pembinaan selama tiga tahun untuk mempersiapkan kompetensi sebagai calon tenaga profesional bidang kehutanan.
“Jangan pernah lupakan tiga hal: Tuhan, orang tua, dan hutan,” pesan Tuti Herawati kepada para peserta didik.
Danish Ramadhan dan Al Zikri Pratama Tunjukkan Keterampilan Teknologi Pemetaan
Pada kesempatan itu, teknologi drone menjadi bagian dari keterampilan yang ditampilkan dalam rangkaian Pengukuhan Peserta Didik Kelas X SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru Angkatan XVIII. Praktik pemetaan menggunakan drone ditampilkan oleh peserta didik kelas XI, Danish Ramadhan dan Al Zikri Pratama.
Penampilan tersebut memperlihatkan penerapan teknologi digital dalam kegiatan pemetaan yang menjadi bagian dari pengembangan keterampilan peserta didik di bidang kehutanan. Melalui praktik tersebut, siswa diperkenalkan pada penggunaan perangkat drone sebagai salah satu teknologi yang dapat mendukung kegiatan pemetaan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari hasil pengembangan diri peserta didik yang ditampilkan dalam acara pengukuhan. Dalam laporan kegiatan, praktik pemetaan dengan drone tercatat sebagai salah satu bentuk pengembangan diri siswa.
Teknologi dan Keterampilan Kehutanan
Bagi pendidikan vokasi kehutanan, penguasaan teknologi menjadi bagian dari kesiapan peserta didik menghadapi perkembangan pekerjaan di lapangan. Pemetaan merupakan salah satu kegiatan yang membutuhkan ketelitian, pemahaman ruang, serta kemampuan menggunakan perangkat teknologi.
Penampilan Danish Ramadhan dan Al Zikri Pratama menunjukkan bahwa pembelajaran di SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru memberikan ruang kepada siswa untuk mengenal dan mempraktikkan teknologi yang berkaitan dengan kebutuhan pekerjaan kehutanan.
Dari Pembelajaran ke Praktik
Praktik pemetaan menggunakan drone juga memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran yang hanya berlangsung di ruang kelas. Siswa berhadapan langsung dengan perangkat, proses penerbangan, dan kebutuhan pemetaan di lapangan.
Keterampilan tersebut sekaligus melatih peserta didik untuk bekerja secara cermat dan terukur. Bagi siswa kelas XI, pengalaman ini menjadi bagian dari proses mempersiapkan diri menghadapi tuntutan kompetensi di bidang kehutanan yang semakin memanfaatkan teknologi digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....