Peran Kader Diperkuat Melalui Edukasi dan Pelatihan EduTB untuk Dukung Eliminasi

  • 15 Agt 2026 07:37 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru – Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan angka kasus yang tinggi. Dalam upaya mendukung target eliminasi TB tahun 2030, Tim Dosen Institut Kesehatan (IKes) Payung Negeri Pekanbaru melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang mengusung tema "Pemberdayaan Kader Program Tuberkulosis melalui Edukasi dan Pelatihan Aplikasi EduTB sebagai Upaya Eliminasi TB di Masyarakat".

Kegiatan pelatihan kader tentang TB yang dilaksanakan didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Pendanaan 2026.

Pelatihan dilakukan tim dosen diketuai Dr. Dwi Sapta Aryantiningsih, M.Kes bersama Ns.Dendi Kharisna, M.Kep dan Bd. Linda Suryani, M.Keb serta mahasiswa dari lintas program studi yaitu Huelin Hutriani, Reni Witarniyanti Lase, Dea Nisrina Ananda dan Alif Evandy Rahmaddany dengan sasaran kader program eliminasi tuberkulosis Kota Pekanbaru.

Ketua tim dosen, Dr. Dwi Sapta Aryantiningsih, M.Kes kepada RRI menjelaskan bahwa kegiatan ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Pendanaan 2026.

"Kegiatan dirancang untuk meningkatkan kapasitas kader sebagai ujung tombak edukasi kesehatan masyarakat melalui pendekatan teknologi digital dan penguatan keterampilan komunikasi," kata Dwi Sapta, Sabtu 15 Agustus 2026.

Dwi Sapta menjelaskan bahwa kader memiliki peran strategis dalam mendukung program pengendalian TB, mulai dari memberikan edukasi kepada masyarakat, membantu penemuan kasus, mendampingi pasien, hingga meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Namun, berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan mitra, masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi kader di lapangan.

"Beberapa permasalahan yang ditemukan antara lain masih terbatasnya pengetahuan kader mengenai Program Terapi Pencegahan Tuberkulosis atau TPT, kemampuan komunikasi interpersonal yang belum optimal, belum maksimalnya pemanfaatan teknologi informasi sebagai media edukasi, serta metode penyuluhan yang masih mengandalkan kunjungan rumah sehingga membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang cukup besar," jelasnya.

Diakui, sebagai solusi, tim PKM melaksanakan empat kegiatan utama, yaitu pelatihan mengenai Program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), pelatihan dan praktikum komunikasi interpersonal, pelatihan pembuatan leaflet dan infografis digital sebagai media edukasi kesehatan serta pelatihan penggunaan Aplikasi EduTB.

"Adapun pelatihan mengenai Program Terapi Pencegahan Tuberkulosis atau TPT pada kader untuk meningkatkan pengetahuan kader sehingga mampu meningkatkan partisipasi kader dalam memberikan edukasi ke Masyarakat dalam program TPT untuk eliminasi TB. Kader juga akan dibekali keterampilan komunikasi interpersonal agar mampu membangun hubungan yang lebih baik dengan masyarakat, mengurangi stigma terhadap penyakit TB, serta meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap kegiatan investigasi kontak dan program terapi pencegahan," urainya.

Ns Dendi Kharisna, M.Kep menambahkan selanjutnya melalui pelatihan pembuatan leaflet dan infografis digital, kader juga didorong menghasilkan media edukasi yang menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Seluruh media edukasi yang dihasilkan nantinya akan dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi komunikasi kesehatan berbasis digital.

"Pelatihan pemanfaatan aplikasi EduTB diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kunjungan langsung. Selain itu, materi edukasi dapat diakses kembali oleh masyarakat kapan pun sehingga penyampaian informasi menjadi lebih efektif, konsisten, dan berkelanjutan," katanya.

Sementara itu, Bd. Linda Suryani, M.Keb menguraikan bahwa program ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas.

"Selain itu, kegiatan ini juga mendukung Asta Cita ke-4 yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia, transformasi digital di bidang kesehatan, serta pemberdayaan Masyarakat. Selain itu kegiatan ini juga termasuk 8 bidang strategis khususnya pada bidang Kesehatan, Literasi Digital dan Keamanan Siber, yang menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan dalam menghadapi transformasi digital layanan kesehatan," ujar Linda.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, kader kesehatan, dan mitra program TB, diharapkan lahir kader-kader yang semakin kompeten dalam memberikan edukasi kesehatan berbasis teknologi sehingga mampu mempercepat upaya eliminasi Tuberkulosis di Kota Pekanbaru dan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini juga melibatkan dosen dan mahasiswa lintas program studi Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui inovasi dan pemberdayaan komunitas.

Pelaksanaan PKM dengan serangkaian kegiatan telah dilaksakana sejak bulan April lalu dan berlangsung hingga Agustus tahun 2026 ini. Selanjutnya akan dilaporkan ke Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Pendanaan 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....