Pendapatan Negara Tumbuh 25 Persen, Aktivitas Ekonomi Riau Tetap Terjaga
- 30 Jul 2026 16:51 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Berdasarkan perkembangan perekonomian Riau sampai akhir bulan Juni 2026 di Provinsi Riau bahwa pendapatan negara tumbuh sebesar 25 persen sehingga memberikan aktivifitas perekonomian di Riau tetap terjaga dengan baik.
Hal itu dikatakan oleh Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan di Provinsi Riau, yang juga Kepala Kantor Wilayah DJP Riau, YFR Hermiyana didampingi Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Riau, Adnan Wimbyarto, saat merilis, APBN Kita terkait dengan Realisasi Fiskal Regional Riau periode hingga 30 Juni 2026 di Pekanbaru, Kamis 30 Juli 2026.
Dikatakan, memasuki pertengahan tahun 2026, perekonomian global masih dibayangi berbagai tantangan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik Iran dengan Amerika Serikat beserta sekutunya, meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi dunia dan mendorong volatilitas harga minyak. Di sisi lain, fragmentasi perdagangan global serta kebijakan moneter negara maju masih memberikan tekanan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
"Meskipun demikian, perekonomian Indonesia khususnya di Provinsi Riau tetap menunjukkan resiliensi yang baik. Permintaan domestik terjaga, inflasi relatif terkendali, sektor keuangan stabil, dan APBN tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional," jelasnya.
Dikatakan, prkembangan ekonomi Provinsi Riau juga menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. Pada Triwulan I Tahun 2026, ekonomi Riau tumbuh 4,89 persen (year-onyear), didukung oleh kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, dan investasi yang tetap kuat.
"Aktivitas perdagangan luar negeri masih menjadi motor penting perekonomian daerah. Selama periode Januari–Mei 2026, Provinsi Riau mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$6,97 miliar, dengan nilai ekspor mencapai US$8,60 miliar dan impor sebesar US$1,63 miliar. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa komoditas unggulan Riau, khususnya kelapa sawit beserta produk turunannya, masih memiliki daya saing yang tinggi di pasar internasional," lanjutnya.
Dari sisi stabilitas harga, inflasi pada bulan Juni 2026 tetap berada dalam kisaran yang terkendali sehingga mendukung terjaganya daya beli masyarakat, yang tercatat sebesar 0,35 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 4,55 persen (yoy). Inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga cabai merah, minyak goreng, tomat, biaya pemeliharaan kendaraan pribadi, bensin, dan ikan patin. Secara umum inflasi masih berada dalam rentang yang terkendali dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.
"Realisasi pendapatan negara sampai dengan Juni 2026 mencapai Rp15,25 triliun atau 52,11 persen dari target APBN. Capaian tersebut tumbuh sebesar 25,00 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp8,63 triliun atau tumbuh sebesar 23,94 persen secara y-o-y, penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp5,96 triliun tumbuh sebesar 28,73 persen secara y-o-y, dan penerimaan PNBP sebesar Rp662,15 miliar tumbuh 8,74 persen secara y-o-y," urainya.
Sementara Adnan menambahkan bahwa Kinerja penerimaan pajak Bulan Juni 2026 tumbuh sebesar 33,88% sebesar Rp8,63 triliun, dengan pertumbuhan terbesar pada kelompok pajak PPh sebesar 356,42% atau naik Rp884,85 M, pertumbuhan pada jenis pajak PPh 25/29 Badan terbesar dari Sektor Industri Pengolahan sebesar 630,37% atau naik Rp787,96 M dan Sektor Pertanian sebesar 511,09% atau naik Rp98,17 M. Secara umum, Penerimaan Pajak di Riau masih ditopang sektor sawit sehingga sangat terpengaruh oleh kondisi global dan kebijakan ekspor dari pemerintah. Pajak ditopang sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan pertanian.
"Penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp5,96 triliun atau 99,13 persen dari target. Bea Masuk tumbuh signifikan sebesar 34,10 persen yang dipengaruhi meningkatnya impor barang modal, termasuk importasi pesawat udara. Sementara itu, Bea Keluar tumbuh 28,66 persen sejalan dengan perkembangan ekspor produk turunan kelapa sawit. Harga Patokan Ekspor CPO pada Juni 2026 berada pada kolom 8 dengan HPE 1.029,51 USD/MT dan pada bulan Juli 2026 Harga Patokan Ekspor CPO tetap berada pada kolom 8 dengan Harga Patokan Ekspor 1.000,90 USD/MT (turun 2,78%)," rincinya.
Disisi lain, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sampai dengan Mei 2026 mencapai Rp579,19 miliar atau tumbuh 14,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya PNBP Lainnya serta pendapatan Badan Layanan Umum (BLU).
Realisasi belanja negara sampai dengan Mei 2026 mencapai Rp14,01 triliun atau 52,43 persen dari pagu. Secara tahunan, belanja negara terkontraksi 2,41 persen.
Sedangkan Belanja Pemerintah Pusat terealisasi sebesar Rp4,63 triliun atau tumbuh 42,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya realisasi belanja pegawai sebesar 38,44 persen, belanja barang sebesar 16,02 persen, serta belanja modal yang tumbuh sangat tinggi sebesar 421,43 persen. Kondisi ini menunjukkan semakin meningkatnya pelaksanaan program dan kegiatan kementerian/lembaga di wilayah Provinsi Riau.
Transfer ke Daerah (TKD) telah tersalurkan sebesar Rp9,39 triliun atau 52,83 persen dari pagu. Secara tahunan, penyaluran TKD mengalami kontraksi sebesar 15,51 persen. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh lebih rendahnya realisasi Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Desa dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun demikian, penyaluran Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) tetap menunjukkan pertumbuhan positif. 8. Dengan realisasi pendapatan negara sebesar Rp15,25 triliun dan realisasi belanja negara sebesar Rp14,01 triliun, APBN Regional Riau sampai dengan Juni 2026 masih mencatatkan surplus sebesar Rp1,23 miliar
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....