Madrasah di Daerah 3 T Pulau Penyalai, "Hidup Segan Mati Tak Mau"
- 25 Jul 2026 15:29 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pangkalan Kerinci Kepala Seksi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pelalawan, Abdul Wahid beserta tim Pendis Bergerak melakukan kunjungan ke madrasah dan pondok pesantren yang berada di daerah 3T (Terluar, Terdepan dan Terluar) yaitu Pulau Penyalai Kecamatan Kualo Kampar, pada Rabu - Jumat, 22 - 24 Juli 2026, yang sebahagian kondisi sekolahnya "hidup segan mati tak mau".
Pada hari pertama Kasi Pendis, mendampingi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pelalawan, bersilaturahmi dan berdialog dengan semua guru madrasah, pesantren, dan PAI. Lalu di hari kedua Tim Bergerak Seksi Pendis turun langsung melihat kondisi proses pembelajaran dan sarana prasarana madrasah dan pondok pesantren.
Dalam laporan yang diterima dari Abdul Wahid bahwa SMP Negeri 01 Kuala Kampar menjadi tempat pertama yang dijambangi tim, bertemu dengan guru PAI secara kebetulan juga diberikan amanah sebagai Kepala Sekolah. Ada dua orang guru PAI yang bertugas disana, mereka menyampaikan harapan dan terimakasih kepada Kementerian Agama atas perhatian selama ini, kedepan ada program peningkatan kompetensi guru agama, terutama terkait sertifikasi Kepala labor praktek pelajaran agama.
Selanjutnya dengan berjalan kaki menuju MTs Teluk Dalam dibawah naungan Yayasan Hikmah Bersama, Disambut oleh Kepala madrasah Sapri, beserta majelis guru. dan ketua yayasan Muhamad Ali. Gedung bangunan madrasah sudah terlihat reyot dimakan usia, ruang tamu ada seperangkat sofa tua.
"Beginilah kondisi madrasah kami Pak Kasi, terimakasih sudah mengunjungi kami di daerah yang jauh ini," ujar Sapri membuka kata kepada tim Pendis Bergerak.
Pada saat itu, tim Pendis Bergerak mendengarkan cerita, dan curhatan majelis guru, dan ketua yayasan.
"Sebelum ada program efesiensi anggaran, dari pemda ada guru honorer yang ditempatkan disini. Namun dalam dua tahun terakhir itu tidak ada lagi, mereka semua ditarik ke sekolah negeri dibawah diknas," ungkap Kepala Madrasah.
Sementara itu Ketua yayasan bercerita tentang suka duka dalam mempertahankan keberadaan Madrasah agar tetap berdiri, beliau sudah mengorbankan segalanya, termasuk kesempatan menjadi guru PPPK di Diknas.
"Mts ini yang tertua di Kabupaten Pelalawan, akan tetapi tidak ada mendapatkan perhatian baik dari Kementerian Agama, maupun pemerintah daerah. Kami berjuang sendiri mengajarkan pendidikan agama Islam disini, membentengi generasi muda dengan ilmu agama," tegas Muhammad Ali.
Lebih lanjut Ali menumpahkan kekecewaan dan kesedihannya.
"Madrasah kami ini sudah ibarat Hidup Segan Mati Tak Mau, kalau tidak ada bantuan dari Kementerian Agama sebagai tempat kami bernaung, dan pemerintah daerah, maka dalam waktu yang tak akan lama lagi, madrasah tertua ini hanya tinggal cerita saja. Ungkapnya dengan suara parau menahan sedih, dan amarah," lirihnya.
Hal sama juga dialami oleh pengelola dan pengurus yayasan Kuala Bersatu, yang membawahi
MA Al Anwar Al Armansyah. Ketua yayasan Roslan, juga merangkap sebagai Kepala Madrasah.
"Kami ini ibarat menggenggam bara, kalau tetap digenggaman tangan terbakar, tapi kalau dilepaskan mati apinya," imbuhnya.
Tenaga guru semakin berkurang, karena mereka lebih memilih kembali honor di pemda, akibat tiada lagi insentif guru honor dari pemda untuk madrasah.
"Murid terus berkurang, solusinya sekolah madrasah-nya di tingkatkan menjadi madrasah negeri, itu baru bisa bersaing dengan sekolah lainnya," kata Abdul Wahid.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....