Finalis PTQ Ajak Masyarakat Jauhi Tren Negatif Media Sosial

  • 27 Feb 2026 21:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Salah satu finalis Grand Final Pekan Tilawatil Qur’an (PTQ) ke-55 RRI Cabang Tausiyah, Seprina Tri Fani mengajak masyarakat untuk menjauhi tren negatif media sosial melalui pesan dakwahnya. Seprina menekankan pentingnya bagi generasi muda untuk tidak terjebak dalam fenomena ikut-ikutan yang melanggar norma.

Ia mengatakan generasi muda saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga cara berpakaian dan berperilaku sesuai ajaran agama Islam. Penguatan kadar ketakwaan serta memperdalam ilmu pengetahuan menjadi solusi utama untuk menghadapi tekanan pergaulan pada era digital sekarang.

“Mari kita meningkatkan kadar iman dan ketakwaan. Mari kita juga memperbanyak ilmu dan pengetahuan,” ujar Seprina saat ditemui di Gedung RRI Jakarta, Jumat, 27 Februari 2026.

Seprina merasa bangga dapat menyuarakan ajakan kebaikan bagi masyarakat luas melalui panggung kompetisi tingkat nasional itu. Meskipun harus menyiapkan materi dalam waktu singkat, ia tetap berkomitmen memberikan performa terbaik untuk mewakili daerah asalnya.

Peserta asal Palembang ini menilai bahwa semangat berlomba-lomba dalam kebaikan harus menjadi identitas utama bagi setiap generasi muda. Pesan tersebut diharapkan mampu menginspirasi para pendengar RRI agar lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi komunikasi sehari-hari.

Sementara itu, salah satu Dewan Hakim Cabang Tausiyah M. Darwis Hude memberikan apresiasi tinggi terhadap kemampuan dakwah yang ditunjukkan oleh para talenta muda Indonesia. Ia melihat potensi besar pada para finalis untuk menjadi mubalig yang mampu membawa perubahan positif di tengah masyarakat.

Penilaian lomba menitikberatkan pada kedalaman materi yang bersumber dari kitab suci Al-Quran serta hadis Nabi secara akurat. Darwis menegaskan bahwa seorang dai harus memiliki penguasaan retorika yang baik agar pesan keagamaan dapat diterima dengan mudah.

“Kita berharap mereka akan berkiprah di daerah masing-masing sebagai mubalig dan daiyah. Alhamdulillah, kita sangat bersyukur dapat menghadirkan anak-anak muda yang luar biasa ini,” ujar Darwis.

Kriteria utama lainnya dalam kompetisi ini adalah penghayatan serta kefasihan dalam membaca ayat suci saat tampil. Peserta dituntut untuk menguasai tajwid serta teknik pernapasan yang tepat guna menjaga keindahan nada suara saat bertausiah.

Dewan hakim berharap para peserta terus mengasah kemampuan berkomunikasi di depan publik agar mental mereka semakin kuat. Latihan yang konsisten akan membentuk karakter orator handal yang siap mengabdi demi kepentingan umat pada masa depan nanti.

“Jika terus dilatih, mereka lama-kelamaan akan menjadi orator dan mubalig yang baik serta terbiasa tampil. Karena itu, kebiasaan dan pendalaman materi sangat penting,” kata Darwis.

Rekomendasi Berita