Bukit Siguntang Makam Kerajaan dan Jejak Peradaban Sriwijaya

  • 27 Mar 2024 17:15 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Bukit Siguntang, sebuah tempat yang syarat dengan sejarah dan kebudayaan, menjadi salah satu landmark yang tak terpisahkan dari kota Palembang. Terletak di Jalan Srijaya Negara, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, bukit ini memiliki ketinggian sekitar 27 meter di atas permukaan laut dan luas sekitar 12,8 hektar.

Pada masa kolonial Belanda, Bukit Siguntang dianggap sebagai tempat yang paling indah di Palembang. Dalam kompleks bukit ini terdapat makam para keturunan Kerajaan Sriwijaya yang termasuk Segentar Alam, Puteri Kembang Dadar, Panglima Bagus Kuning, Pangeran Raja Batu Api, dan lainnya.

Segentar Alam sendiri dikenal sebagai tokoh keturunan Iskandar Zulkarnain yang membawa kemakmuran bagi wilayahnya.

Tidak hanya sebagai tempat pemakaman, Bukit Siguntang juga memiliki nilai religi. Sejak abad ke-7, bukit ini telah menjadi tempat ibadah bagi penganut Buddha, yang ditandai dengan ditemukannya arca Buddha dan pecahan-pecahan tembikar peninggalan Dinasti Tang.

Keberadaan Bukit Siguntang juga terkait erat dengan peradaban Sriwijaya. Relief-relief dan peninggalan sejarah lainnya seperti pecahan keramik dan tembikar, menggambarkan kejayaan Sriwijaya serta kehidupan masyarakat pada masa itu. Benda-benda penemuan ini disimpan di Museum Balaputera Dewa dan Museum Sriwijaya untuk kepentingan pelestarian.

Di tengah Bukit Siguntang terdapat menara pandang yang memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan sekitar. Relief-relief yang menghiasi bukit tersebut menceritakan berbagai peristiwa sejarah, seperti belajar agama Buddha, kemakmuran pada masa Kerajaan Sriwijaya, dan penumpasan bajak laut oleh Laksamana Cheng Ho.

Tak hanya sebagai tempat wisata sejarah, Bukit Siguntang juga memiliki nilai simbolis yang penting bagi masyarakat Palembang. Konon, Sultan Mahmud Badaruddin II pernah mengajak para pemimpin pedalaman Palembang untuk bersumpah setia kepada kesultanan di atas bukit ini.

Bukit Siguntang menjadi bukti nyata kekayaan sejarah dan budaya Palembang, serta menjadi tempat yang menarik bagi wisatawan yang ingin menyelami jejak-jejak masa lalu yang kaya akan cerita dan makna ujar Amir Hamzah salah seorang pengujung Bukit Siguntang.

Budayawan Sumsel Vebri Al lintani saat ditanya RRI menceritakan ada yang menyebutnya bukit Siguntang, namun jika" membaca kitab-kitab lama dan dialek Melayu-Palembang, sebenarnya nama bukit tertinggi di kota Palembang ini adalah bukit "Seguntang". Bukit yang menjulang sekitar 27 meter dari permukaan laut diyakini tempat pemujaan di masa Sriwijaya dan juga meninggalkan jejak sejarah di masa Kesultanan Palembang Darussalam.

"Dalam beberapa kajian oleh kolonial Belanda, bukit Seguntang merupakan tempat persumpahan para pembesar dari uluan oleh Sultan Palembang, tepatnya di depan makam keramat Segentar Alam yang diyakini sebagai makam puyang-puyang orang Sebatanghari Sembilan," sambungnya.

Nama bukit Seguntang juga tercatat dalam Kitab Sastra Sulalatus Salatin yang ditulis oleh bendahara Johor Tun Srilanang dan diteruskan oleh pujangga Melayu Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Dari kitab ini, masyarakat Melayu, terutama masyarakat Singapura, Melaka dan beberapa sub etnis Melayu lainnya.

Diyakini bahwa nenek moyang mereka yang bernama Sang Nila Utama (atau dikonfirmasi dalam sejarah disebut dengan Parameswara) berasal dari bukit Seguntang, anak seorang tokoh bernama Sang Sapurba yang menikahi Wan Sundaria, puteri Demang Lebar Daun. Bagi masyarakat Palembang sekarang. Bukit ini dianggap bukit keramat karena ada beberapa makam nama-nama yang melegenda seperti makam Segentar Alam, Tuan Junjungan, Puteri Rambut Selako, Puteri Kembang Dadar dan lain-lain.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....