Benteng Kuto Besak Simbol Kekuatan Palembang
- 28 Mar 2024 19:03 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Benteng Kuto Besak, yang diresmikan pada 23 Februari 1790, telah menjadi bagian penting dari sejarah dan kebanggaan Kota Palembang. Dengan tinggi sekitar 9,9 meter dan panjang 288,75 meter x 183,75 meter, benteng ini tidak hanya menjadi pertahanan fisik, tetapi juga simbol kekuatan dan keberanian Kerajaan Palembang Darussalam.
Terletak menghadap Sungai Musi, benteng ini terbuat dari batu bata dan batu kapur yang didatangkan dari daerah pedalaman Sungai Ogan. Dibangun sebagai dinding pertahanan untuk melindungi kerajaan dari serangan musuh, Benteng Kuto Besak juga menjadi pusat kesultanan Palembang pada masa Sultan Mahmud Badaruddin II.
Dengan tiga pintu gerbang, yang utama terletak di sisi tenggara, Benteng Kuto Besak menggambarkan kemegahan dan kebesaran kerajaan. Meskipun saat ini hanya gerbang sisi barat yang masih berdiri, benteng ini tetap menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa sejarah yang melintasi zaman.
Namun, kejayaan Benteng Kuto Besak tidak luput dari cobaan. Pernah dibakar oleh Belanda pada bulan Ramadan tahun 1236 Hijriah, benteng ini tetap berdiri teguh sebagai simbol keteguhan dan perlawanan. Bahkan setelah Belanda berhasil mendudukinya pada tahun 1821, Benteng Kuto Besak tetap menjadi pusat pemerintahan kota Palembang di bawah kepemimpinan Susuhunan Husin Dhiauddin.
Hingga kini, Benteng Kuto Besak tetap menjadi pusat sejarah yang penting bagi masyarakat Palembang. Sebagai simbol kekuatan dan keberanian, benteng ini mengajarkan kita untuk menghargai warisan budaya dan sejarah yang telah menjadi bagian integral dari identitas kita.
Budayawan Sumsel Vebri Al lintani saat ditanya rri mengatakan Benteng Kuto Besak (BKB) adalah satu-satunya benteng yang dibangun oleh pribumi dalam hal ini Sultan Mahmud Badaruddin I dan diselesaikan oleh cucunya Sultan Bahauddin. Sebelum difungsikan sebagai benteng oleh Belanda disebut sebagai Kuto Besak oleh Kesultanan Palembang Darussalam. Kuto berarti tempat pusat kekuasaan yang ditandai dengan keraton atau istana dan keluarga dekat Sultan. Selain Kuto Besak ado jugo Kuto kecik sebelah hilir. Sejak masa kemerdekaan BKB dikelola oleh Kodam II/Sriwijaya sebagai kantor Kesehatan Daerah Militer hingga sekarang. Vebri Al lintani berpandangan, untuk kepentingan sejarah, budaya dan kepariwisataan sudah seharusnya BKB difungsikan sebagai cagar budaya yang dibuka untuk umum dengan merelokasi kantor, hunian, sekolah dan Rumah Sakit serta hal lain ke tempat yang lebih layak
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....