Belajar dari Bali, Saatnya Sumsel Menjual Pengalaman Wisata

  • 29 Jul 2026 21:00 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Pariwisata di Bali berhasil menghidupi masyarakat lokal secara langsung melalui keberagaman usaha warga desa. Keberhasilan ini dicapai berkat tata kelola bersama.
  • Kunjungan wisatawan ke Sumatera Selatan meningkat signifikan hingga menyumbang lebih dari 30 persen PAD Kota Palembang. Namun, dampaknya belum terkonversi optimal bagi warga.
  • Sumatera Selatan perlu mengadopsi tata kelola Bali dengan menjadikan desa wisata sebagai pusat ekonomi warga, menjaga standar pelayanan, dan meningkatkan kualitas SDM.

RRI.CO.ID, Bangli - Tangan Mbok Sari dengan cekatan mengikatkan kain udeng berwarna kuning kunyit yang melingkar di kepala saya. Sekuntum bunga kamboja imitasi berwarna putih dijepit pada bagian depannya, melengkapi pakaian adat Bali yang saya kenakan.

"Nah, sekarang sudah mirip orang Bali ini. Sudah bisa dipanggil bli," ucap Mbok Sari dengan logat Bali yang kental.

Saya pun bergeser. Di belakang saya, tiga orang pengunjung antre mengenakan pakaian adat yang disewakan. Bagi sebagian wisatawan, busana tradisional mungkin sekadar kenang-kenangan foto. Namun bagi warga Desa Penglipuran, jasa sederhana itu merupakan salah satu mata rantai ekonomi yang menghidupi desa.

"Hasilnya lumayan, bisa membiayai hidup dan sekolah anak," kata Mbok Sari dengan senyum ramahnya. Perempuan asli Penglipuran ini mengaku sekitar 70 persen pendapatan keluarganya berasal dari sektor wisata.

Wisatawan memadati kawasan Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. Kebersihan lingkungan, pelayanan yang ramah, keamanan, serta keterlibatan masyarakat menjadikan desa ini sebagai salah satu contoh keberhasilan pengelolaan destinasi wisata berbasis komunitas. (Foto: RRI/Rian Apridhani)

Saya mengunjungi Bali pada akhir bulan Juni 2026, usai masa libur sekolah. Kendati tidak terlalu sesak, lorong-lorong desa tetap dipenuhi wisatawan. Pemandangan ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang 2025 yang mencatat Bali tetap menjadi magnet utama pariwisata Indonesia dengan 52,7 juta jumlah kunjungan.

Di sisi lain, BPS juga mencatat 26,07 juta perjalanan wisatawan nusantara menuju Sumatera Selatan atau meningkat 43,67 persen dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan minat ke Sumsel ini membawa tantangan baru: bagaimana setiap perjalanan mampu menciptakan nilai ekonomi sebesar yang dinikmati masyarakat Bali.

Namun, kekuatan utama Penglipuran bukan sekadar ramainya kunjungan, melainkan tata kelola yang dijaga bersama. Ketika satu pelaku usaha kebanjiran tamu, pengunjung justru diarahkan ke tetangga.

"Kalau tamu lebih, ya kita kasih ke tetangga," ujar Mbok Sari.

Rumah warga di Desa Penglipuran dimanfaatkan sebagai ruang usaha penyewaan pakaian adat Bali. Model pariwisata berbasis masyarakat seperti ini memungkinkan manfaat ekonomi mengalir langsung kepada warga, menjadi salah satu praktik yang dinilai relevan untuk direplikasi di Sumatera Selatan. (Foto: RRI/Rian Apridhani)

Pelajaran serupa saya dengar dari Bli Kenthir, seorang pemandu wisata lokal. "Yang kita jual pertama itu senyum. Begitu tamu datang, kita sambut: Selamat datang di Pulau Dewata Bali," katanya. Menurutnya, wisatawan akan kembali apabila merasa dihargai, aman, dan nyaman. "Jalan sampai malam juga nyaman," tambahnya.

Ucapan Bli Kenthir menyiratkan hal mendasar: pariwisata bukan sekadar menjual panorama, melainkan menghadirkan pengalaman. Di Bali, desa adat, UMKM, pemerintah daerah, dan industri bergerak dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Nilai ekonomi tidak berhenti di pintu masuk objek wisata, tetapi mengalir hingga ke rumah-rumah warga.

Infografis. (Sumber: BPS)

Pelajaran itu sangat relevan bagi Sumatera Selatan. Provinsi ini memiliki modal besar mulai dari Sungai Musi, Danau Ranau, Gunung Dempo, hingga desa-desa wisata yang terus berkembang. Namun, pembelajaran dari Bali tidak cukup berhenti pada keberhasilan fisik destinasi, melainkan bagaimana menempatkan pariwisata sebagai penggerak utama pembangunan daerah.

Gagasan ini sejalan dengan pandangan Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Palembang, Isnaini Madani. Menurutnya, pariwisata tidak seharusnya dipandang sebagai urusan satu organisasi perangkat daerah (OPD) saja, melainkan menjadi "punggawa" yang menggerakkan seluruh sektor.

"Pariwisata penyumbang terbesar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palembang. Lebih dari 30 persen PAD berasal dari sektor ini melalui pajak hotel, restoran, dan hiburan," ujarnya.

Isnaini mencontohkan keberhasilan Banyuwangi ketika seluruh OPD menjadikan pariwisata sebagai tujuan bersama. Dinas Perhubungan, Dinas Pendidikan, DPMPTSP, hingga Bappeda menyusun program yang saling mendukung. Arah serupa mulai dibangun di Palembang lewat penataan Benteng Kuto Besak, Car Free Day dan Night, hingga pembenahan kawasan Jembatan Ampera.

Jembatan Ampera menjadi ikon utama pariwisata Kota Palembang sekaligus pintu masuk wisata Sungai Musi. Di balik besarnya potensi tersebut, Sumatera Selatan masih menghadapi tantangan mengubah tingginya mobilitas wisata menjadi nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal melalui tata kelola destinasi yang berkelanjutan. (Foto: RRI/Rian Apridhani)

Meski kunjungan ke Sumsel tinggi, BPS mencatat kontribusi sektor akomodasi dan makan-minum terhadap PDRB provinsi ini masih berkisar 2–3 persen. Artinya, tingginya perjalanan wisata belum sepenuhnya terkonversi menjadi nilai tambah ekonomi warga.

Karena itu, yang perlu diadopsi Sumsel bukanlah membangun "Bali baru", melainkan mengadopsi tata kelolanya melalui tiga langkah kunci: Pertama, desa wisata harus menjadi pusat ekonomi masyarakat, bukan sekadar lokasi swafoto. Penglipuran membuktikan hampir setiap rumah dapat menjadi pelaku usaha, mulai dari homestay, penyewaan pakaian adat, kuliner, hingga jasa pemandu wisata.

Kedua, kebersihan, keamanan, dan keramahan harus menjadi standar bersama. Wisatawan tidak hanya mengingat tempat yang indah, tetapi juga bagaimana mereka diperlakukan. Pengalaman sederhana seperti disambut dengan senyum, merasa aman berjalan hingga malam, atau melihat lingkungan yang tertata rapi kerap menjadi alasan seseorang kembali berkunjung.

Ketiga, pemerintah daerah perlu memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan bahasa asing, pelayanan wisata, pemasaran digital, serta pendampingan UMKM. Apa yang disampaikan Bli Kenthir tentang pentingnya kemampuan bahasa menunjukkan bahwa investasi terbesar dalam industri pariwisata sesungguhnya adalah manusia.

Sebelum meninggalkan Penglipuran, saya kembali melihat Mbok Sari merapikan udeng wisatawan berikutnya. Tangannya bergerak lincah, senyumnya tetap hangat seperti saat pertama kali menyambut saya.

Desa ini tidak hanya menjual jalan yang bersih atau rumah-rumah tradisional yang tertata. Penglipuran menjual pengalaman, rasa diterima, rasa aman, dan rasa ingin kembali. Pengalaman itu lahir dari tata kelola yang dijaga bersama, mulai dari kebersihan lingkungan, kepatuhan terhadap adat, hingga kesempatan ekonomi yang dibagi kepada warga.

Udeng yang tadi pagi diikatkan Mbok Sari akhirnya saya lepaskan sebelum meninggalkan desa. Namun satu hal tetap saya bawa pulang. Bukan bunga kamboja yang terselip di kepala, tapi pelajaran bahwa masa depan pariwisata tidak dimulai dari membangun destinasi yang megah, melainkan dari membangun masyarakat yang merasa memiliki. Jika semangat itu tumbuh di Sumatera Selatan, maka wisata bukan lagi sekadar tempat untuk dikunjungi, tetapi alasan bagi orang untuk datang kembali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....