Masjid Kursi Patah di Muba, Magnet Wisata Religi

  • 21 Jul 2026 17:09 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Masjid Raya Abdul Kadim di Desa Epil, Kabupaten Musi Banyuasin, merupakan destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi masyarakat.
  • Masjid ini dikenal dengan sebutan Masjid Kursi Patah karena memiliki ikon kursi berkaki tiga unik yang menjadi simbol dan daya tarik utama pengunjung.
  • Ikon kursi patah yang dipasang di masjid mengandung pesan moral agar manusia tidak berlebihan dalam mengejar kekuasaan.

RRI.CO.ID, Musi Banyuasin - Masjid Raya Abdul Kadim di Desa Epil, Kabupaten Musi Banyuasin, terus menarik minat masyarakat sebagai destinasi wisata religi. Masjid yang dikenal dengan sebutan Masjid Kursi Patah itu tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menggerakkan perekonomian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitarnya.

Masjid yang berdiri di atas lahan seluas dua hektare itu ramai dikunjungi masyarakat, Jumat, 17 Juli 2026. Julukan Masjid Kursi Patah berasal dari ikon kursi berkaki tiga yang dipasang sebagai simbol agar manusia tidak berlebihan mengejar kekuasaan.

Marbot Masjid Raya Abdul Kadim, Bagas, mengatakan filosofi kursi patah merupakan pesan yang diwariskan pendiri masjid. Menurutnya, setiap pengunjung dapat memaknai simbol tersebut sesuai sudut pandang masing-masing.

"Kalau kursi empat aja bisa roboh, apalagi kursinya cuma tiga," katanya.

Masjid Raya Abdul Kadim mulai dibangun pada 2018 dan selesai dalam waktu empat tahun. Masjid tersebut diresmikan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru bersama Ustaz Abdul Somad pada 2023.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, pengelola juga menjaga kenyamanan kawasan masjid melalui petugas marbot dan keamanan yang bertugas setiap hari. Upaya tersebut dilakukan agar jemaah dan wisatawan dapat beribadah dengan aman dan nyaman.

Bagas mengatakan jumlah pengunjung biasanya meningkat saat Ramadan, Idulfitri, akhir pekan, dan hari libur. Keramaian mulai terlihat setelah salat Asar hingga menjelang malam.

Salah seorang jemaah, Atri Mulyadi, mengaku rutin beribadah di Masjid Raya Abdul Kadim selama hampir empat tahun. Ia menilai suasana masjid yang sejuk dan arsitekturnya yang menarik membuat jemaah merasa nyaman beribadah.

"Sangat nyaman sekali kalau di sini, sangat sejuk. Sambil menunggu waktu salat, saya juga sambil membaca Al-Qur'an," ujarnya.

Meningkatnya jumlah pengunjung juga membawa dampak positif bagi pelaku UMKM di sekitar masjid. Pedagang makanan dan minuman, Tri Apriliani, mengaku pendapatannya meningkat terutama saat akhir pekan dan hari libur.

"Lumayan meningkat saya berdagang makanan minuman di sini. Apalagi kalau hari libur biasanya banyak pengunjung yang datang," tuturnya.

Pengelola berharap Masjid Raya Abdul Kadim terus berkembang sebagai pusat ibadah sekaligus destinasi wisata religi di Sumatera Selatan. Keberadaan masjid juga diharapkan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui aktivitas UMKM di kawasan tersebut

Laporan Anggara Firga Pradivta, Mahasiswa Magang Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....