Desa Belandang, Negeri di Balik Daun yang Indah

  • 24 Okt 2025 22:38 WIB
  •  Palembang

KBRN, Ogan Komering Ulu: Hamparan hijau pepohonan dan udara sejuk menyambut siapa pun yang datang ke Desa Belandang, sebuah desa yang berada di Kecamatan Ulu Ogan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Desa dengan luas wilayah sekitar 689 hektar ini dikenal sebagai “Negeri di Balik Daun”, sebutan yang menggambarkan betapa rimbunnya hutan dan pepohonan besar yang mengelilingi wilayahnya.

Dari penjelasan salah satu tokoh muda Desa Belandang, Rizan Pratama Putra, Desa Belandang terletak di ketinggian 220 hingga 650 meter di atas permukaan laut, Belandang menyimpan kekayaan alam yang melimpah, mulai dari hasil pertanian hingga keanekaragaman hayati.

Sekitar 1.200 jiwa penduduknya sebagian besar bekerja sebagai petani kopi, lada, durian, serta penyadap karet. Namun, bagi warga Belandang, kehidupan mereka bukan sekadar tentang hasil bumi, tapi juga tentang menjaga warisan alam dan budaya yang telah ada turun-temurun.

Nizar, menuturkan bahwa masyarakat di desanya memiliki hubungan yang erat dengan alam. Bagi mereka, hutan bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga bagian dari identitas dan sejarah desa.

“Kami di Belandang hidup berdampingan dengan alam. Hutan dan sungai bukan hanya tempat mencari rezeki, tapi juga warisan yang harus dijaga untuk anak cucu kami nanti,” ujar Nizar kepada RRI, Jumat (24/10/2025).

Sementara itu dari keterangan dandy sebagai pemerhati budaya mengatakan, hutan Belandang memang menyimpan banyak cerita. Di dalamnya hidup berbagai jenis fauna langka seperti harimau sumatera, macan dahan, burung rangkong, hingga kijang dan landak sumatera.

“Tak hanya itu, kawasan ini juga memiliki panorama alam menakjubkan, termasuk beberapa air terjun tersembunyi yang masih alami. Walau akses menuju lokasi tersebut cukup menantang, wisatawan tetap dapat menikmatinya dengan bantuan pemandu dari karang taruna desa,” ujarnya menambahkan keterangan Nizar.

Selain kekayaan alam, Desa Belandang juga dikenal karena masih mempertahankan kebudayaan dan adat istiadat lama. Salah satunya adalah tarian Bakhi, kesenian tradisional yang diwariskan sejak masa lampau. Bahkan, desa ini menyimpan peninggalan bersejarah seperti kain adat dari tahun 1920-an dan alat musik Jawa peninggalan masa Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1375 Masehi.

Menurut Nizar, budaya lokal adalah kekuatan yang membuat Desa Belandang tetap berdiri teguh di tengah perubahan zaman. “Anak muda di sini kami ajak untuk terus mengenal adat dan sejarahnya. Supaya mereka bangga dengan asal-usulnya dan tidak mudah tergerus budaya luar,” ungkapnya.

Kini, Pemerintah Desa Belandang bersama masyarakat terus berupaya mengembangkan potensi wisata dan budaya tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisi yang telah diwariskan. Mereka percaya, kemajuan bisa berjalan seiring dengan pelestarian.

Desa Belandang menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat pedesaan di Sumatera Selatan mampu menjaga keseimbangan antara kearifan lokal, alam, dan budaya, menjadikannya bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang hidup yang sarat makna dan sejarah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....