Seminar Museum Negeri Sumsel Angkat Posisi Strategis Manik-Manik
- 04 Okt 2025 06:51 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Museum Negeri Sumatera Selatan melaksanakan Seminar Hasil Pengkajian Manik-Manik Koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan, Kamis (2/10/2025) di Aula Museum Balaputra Dewa. Acara ini juga menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, diantaranya Sondang Martini Siregar, Hudaidah, Imam Asngari, Hendra Sudrajat.
Kegiatan ini dipandu moderator Merry Hamraeny dengan jumlah peserta mencapai 105 orang yang terdiri atas guru, komunitas budaya, mahasiswa, hingga pegiat museum. Hasil kajian dalam pekan koleksi ini akan dihimpun dan diterbitkan menjadi buku referensi, sehingga dapat bermanfaat bagi pengunjung, peneliti, maupun masyarakat luas.
Amarullah selaku Plh Kepala UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan mengatakan seminar yang digelar Museum Negeri Sumatera Selatan menegaskan posisi strategis manik-manik sebagai bagian penting dari warisan budaya. Manik-manik yang telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan global sejak masa lampau.
“Museum Negeri Sumatera Selatan kembali menyelenggarakan Pekan Koleksi Museum tahun 2025. Kegiatan yang rutin digelar sejak tahun 2019 ini menjadi salah satu program penting dalam upaya mengenalkan pengetahuan kebudayaan serta menguatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keberadaan museum,” ujarnya
Pada tahun ini, Museum Negeri Sumsel mengangkat tema manik-manik yang erat kaitannya dengan sejarah dan peradaban Melayu-Sriwijaya. Terdapat empat fokus kajian yang ditampilkan, yaitu Prasasti Kedukan Bukit, hasil penelitian mengenai seni lukis Melayu, koleksi manik-manik dari situs Karang Agung, serta temuan manik-manik dari kawasan tepian Sungai Musi.
“Pengajian terhadap manik-manik ini telah digelar dalam tiga periode, yakni 6 Mei hingga 1 Agustus, kemudian berlanjut pada 26 September 2025, dengan total 42 rangkaian manik-manik yang berasal dari berbagai situs arkeologi, termasuk situs Sriwijaya di Karang Agung dan tepian Musi,” jelasnya.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel yang diwakili Kepala Bidang Pengembangan dan Pemasaran, Sido Santoso, mengatakan, manik-manik tidak hanya dipandang sebagai benda hias, tetapi juga sebagai artefak media pembelajaran dan penelitian. Manik-manik juga menghasilkanberagam kajian yang dapat digunakan untuk menelusuri jejak peradaban kebudayaan dan perdagangan di nusantara.
“Dalam paparan para narasumber, manik-manik tidak hanya dipandang sebagai benda hias tetapi juga sebagai artefak yang membuka pemahaman baru mengenai hubungan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat di masa lalu. Kajian ini bahkan memperlihatkan bagaimana manik-manik menjadi portal untuk menelusuri jejak peradaban lintas bangsa,” ungkapnya.
Sejumlah akademisi juga menyoroti perspektif teori konstitusi budaya Nusantara yang mampu membuka ruang pemahaman baru tentang keterhubungan sosial dan keberlanjutan warisan budaya. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian terhadap manik-manik bukan sekadar menyingkap sejarah, melainkan juga memperkaya cara pandang dalam melihat dinamika budaya.
“Kegiatan ini dinilai penting bagi masyarakat, terutama generasi muda, agar lebih memahami detail warisan budaya yang dimiliki. Dengan begitu, manik-manik tidak hanya dipahami sebagai benda kuno, melainkan juga sebagai bagian dari identitas dan jati diri bangsa yang terus relevan hingga kini,” tambahnya
Sementara itu, salah satu peserta seminar Novi Susanti dari perwakilan dari mahasiswa mengatakan banyak menambah wawasan dan pengetahuan tentang manik-manik. Keberagaman bentuk dan warna yang memiliki kisah dan sejarah yang berbeda sesuai masanya.
“Dengan adanya seminar ini kami mendapat wawasan baru tentang ragam manik-manik peninggalan sejarah. Semoga lebih banyak seminar atau kegiatan yang seperti ini, agar para mahasiswa dan generasi muda dapat memahami peninggalan sejarah yang perlu dipelajari di Museum," harapnya.
Amarullah mengatakan sejak tahun 2024 Museum Negeri Sumatera Selatan telah menerbitkan 32 judul publikasi dari kegiatan serupa. Program ini diharapkan terus berlanjut sebagai bagian dari pengembangan literasi kebudayaan di Sumatera Selatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....