Menjadi Kreatif: Aktivasi Ruang Publik untuk Semua

  • 07 Mei 2025 09:15 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Sebuah buku berjudul "RETROSPEKTIF KOTA KREATIF: Antologi Esai Cerita Kota/Kabupaten Kreatif Indonesia – Menghimpun Yang Terserak" diterbitkan oleh Indonesia Creative Cities Network (ICCN) pada tahun 2024 dengan cetakan pertama. Buku ini merangkum berbagai sudut pandang mengenai perkembangan dan dinamika kreativitas serta kemajuan kota dan kabupaten di Indonesia.

Buku ini berisi tulisan esai yang ditulis oleh para local champions dan penggerak kota kreatif. Para penulis menceritakan kota masing-masing melalui kacamata kolaboratif dari Pemerintah, Komunitas, Akademisi, Aggregator, Bisnis, dan Media dalam mengimplementasikan 10 Prinsip Kota Kreatif di setiap kota.

Salah satu penulis dalam buku ini adalah Yudi Suhairi, Sekjen Komite Ekonomi Kreatif Kota Palembang dan koordinator daerah (korda) ICCN Sumatera Selatan. Yudi menuliskan esai tentang aktivasi cipta ruang kreatif (creative placemaking) di ruang publik yang potensial dikembangkan di tepian sungai Musi. Tulisan ini berjudul “Menelusuri Arus Kreatif: Potensi Sungai Musi Sebagai Identitas Budaya, Penggerak Kreativitas dan Daya Cipta Kota Palembang.”

Yudi menjelaskan, “Me-resensi kota adalah cara paling obyektif untuk menilai kelebihan, kelemahan, dan potensi. Setiap penulis yang merupakan jejaring ICCN di 250 kota di Indonesia memiliki narasi dan upaya tersendiri dalam mewujudkan kota kreatif di daerahnya,” dalam bincang-bincang dengan RRI, Selasa (7/5/2025).

Melalui esai tersebut, Yudi mendorong warga kota Palembang untuk menjaga dan mengoptimalkan sungai Musi. Sungai ini merupakan infrastruktur alam yang dianugerahkan oleh semesta kepada kota Palembang. Sungai Musi menyediakan ruang terbuka kota dengan potensi tak terbatas dan memberikan berbagai manfaat bagi warga.

Sungai tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi dan perekonomian masyarakat sekitar, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk ruang kolektif atau ruang kreatif publik. “Ruang-ruang tepian sungai kini sudah banyak diaktivasi oleh pelaku kreatif dan penggiat komunitas di Palembang. Ruang ini menjadi kreatif komunal serta aktivitas yang sarat simbol-simbol kreativitas,” jelasnya.

Yudi menambahkan, “Sungai Musi tidak lagi menjadi objek, tetapi subjek. Ini adalah ruang yang tidak hanya bisa dilihat, tetapi juga dirasakan, dipikirkan, dimaknai, dan menginspirasi.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....