Legenda Pulau Kemaro dan Perayaan Cap Go Meh
- 08 Feb 2025 12:12 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Pulau ini tidak hanya terkenal dengan legendanya. Tapi juga sebagai pusat perayaan Imlek dan Cap Go Meh di kota Palembang.
Pulau Kemaro, merupakan sebuah delta kecil di Sungai Musi yang terletak sekitar 6 kilometer dari Jembatan Ampera. Salah satu destinasi tempat wisata unik yang tidak pernah tenggelam meskipun Sungai Musi pasang.
Pada zaman Kolonial, Pulau Kemaro dijadikan benteng pertahanan Kesultanan Palembang. Lalu beralih fungsi menjadi camp tahanan dan lahan pertanian. Hingga akhirnya kini menjadi tempat ibadah serta destinasi wisata religi.
Saat perayaan Cap Go Meh, pulau ini ramai dikunjungi peziarah dan wisatawan. Puncak perayaan Cap Go Meh tahun ini diperkirakan terjadi di tanggal 10 sampai 11 Februari 2025.
Cap Go Meh sendiri berasal dari bahasa Hokkian yaitu 15 hari setelah Imlek. Perayaan Cap Go Meh adalah puncak atau akhir dari perayaan Imlek. Cap Go Meh juga terkenal dengan sebutan Festival Lentera.
Biasanya perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro dimeriahkan dengan pertunjukan Barongsai, menerbangkan lampion dan ada tradisi penyembelihan kambing hitam jantan saat malam puncak perayaan Cap Go Meh.
"Tiap daerah itu punya ciri khasnya masing-masing. Nah, di Palembang ya menyembelih kambing jantan hitam," ujar Budayawan Tionghoa Palembang, Cik Harun, dilansir dari akun Instagram Chaming Palembang.
Proses penyembelihan tersebut dilakukan tepat tengah malam dan di depan altar leluhur Siti Fatimah. Tradisi ini sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur.
Pemilihan kambing jantan berwarna hitam adalah tradisi leluhur dan sudah dijalankan secara turun temurun. Kenapa kambing jantan hitam yang dipilih? Ini dikarenakan Siti Fatimah adalah seorang muslim. Kambing tergolong halal bagi kaum muslim.
Semua warga Palembang tentu sudah tahu tentang kisah cinta yang melegenda di pulau Kemaro. Kisah cinta Siti Fatimah, seorang Putri Palembang dengan Tan Bun An, seorang saudagar asal Cina.
Tan Bun An yang pulang dari Cina diberi hadiah oleh orangtuanya sembilan guci berisi emas. Tapi ditutupi dengan sawi asin. Karena malu dan tidak tahu, dia lalu membuang guci itu. Hingga di guci terakhir dia baru mengetahui isinya adalah emas.
Tan Bun An meminta pengawalnya terjun ke Sungai Musi, lalu dia pun menyusul. Namun mereka berdua tidak muncul ke permukaan. Lalu Siti Fatimah juga ikut terjun ke sungai. Tapi ketiganya tak pernah muncul. Hingga akhirnya tempat mereka tenggelam tiba-tiba muncul pulau kecil yang dikenal sebagai Pulau Kemaro.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....