Atasi Masalah Sampah, Grow Sumsel Gelar Aksi Konservasi
- 06 Feb 2026 00:48 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Permasalahan sampah tidak hanya terjadi di ruang publik besar, tetapi juga di lingkungan sekitar rumah. Menyadari hal tersebut, komunitas Grow Sumatera Selatan (Grow Sumsel) terus menggalakkan aksi konservasi bertajuk Health the World, dengan fokus pada pengelolaan sampah menjadi produk fungsional dan bernilai ekonomi.
Perwakilan Grow Sumsel, Rosidah, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih berada pada tahap sosialisasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan sampah. Menurutnya, sampah tidak semata-mata menjadi limbah, tetapi dapat didayagunakan menjadi produk yang bisa digunakan kembali bahkan diperjualbelikan.
“Kami fokus mendayagunakan sampah agar tidak hanya dibuang, tetapi bisa menjadi produk fungsional dengan nilai ekonomi. Contohnya sabun dari eco enzyme, baik sabun batang, sabun cair, hingga tinta spidol isi ulang dari bahan organik,” ujar Rosidah dalam ulasannya, Kamis, 6 Januari 2026.
Ia menambahkan, pendekatan ini terbukti menarik minat masyarakat karena memberikan manfaat langsung, khususnya bagi ibu rumah tangga yang melihat peluang penghematan dan tambahan ekonomi dari pengolahan limbah rumah tangga.
Sekretaris Grow Sumsel, Intan Aisyah Nur Rohmah, mengatakan komunitas ini menjadi bagian dari Laskar Hijau Sumatera Selatan. Meski tergolong baru terbentuk pada tahun 2025 melalui program Green Leadership Indonesia, berbagai kegiatan edukasi telah dilakukan.
“Beberapa kegiatan yang sudah kami lakukan antara lain sosialisasi dan edukasi pengolahan sampah serta pembuatan eco enzyme di Qur’anic Farm Kalidoni. Menariknya, sekolah ini menerapkan sistem pembayaran SPP menggunakan sampah, bukan uang,” jelas Intan.
Selain itu, Grow Sumsel juga berkolaborasi dengan sejumlah sekolah seperti SMA Puspita Air Kumbang dan SMA Negeri 8 Palembang melalui workshop dan pelatihan pembuatan eco enzyme. Di SMA Negeri 8 Palembang, kegiatan tersebut dikemas dalam program Duta Cinta Lingkungan yang mengedukasi siswa tentang bank sampah dan pengelolaan limbah.
Tidak hanya di sekolah, edukasi juga menyasar masyarakat desa melalui pelatihan pembuatan sabun cair dari eco enzyme. Secara keseluruhan, tercatat sekitar 185 peserta yang terdiri dari siswa, guru, dan masyarakat telah terlibat dalam berbagai kegiatan tersebut.
Rosidah menilai antusiasme masyarakat cukup tinggi, terutama setelah mengetahui bahwa limbah seperti sampah organik, jelantah, hingga plastik dapat diolah menjadi produk berguna seperti pupuk organik, eco brick, conblock ramah lingkungan, dan sabun.
“Selama ini masyarakat hanya tahu sampah dipilah dan dibuang. Tapi ketika tahu sampah bisa jadi sabun cuci piring atau produk lain, mereka jadi lebih semangat,” ungkapnya.
Sebagai penutup, para penggerak Grow Sumsel mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak ragu memulai langkah kecil dalam menjaga lingkungan.
“Langkah kecil hari ini akan berdampak besar di masa depan. Hal sederhana seperti membawa botol minum sendiri bisa membantu mengurangi sampah,” pesan Intan.
Sementara itu, Dini menambahkan bahwa kreativitas dalam mengolah sampah dapat membuka peluang ekonomi. “Kalau kita kreatif, sampah itu bisa jadi cuan,” ujarnya.
Grow Sumsel berharap edukasi berkelanjutan ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sampah bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi yang berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....