Manfaatkan Garasi Rumah, Pempek Garasi 22 Bertahan hingga 22 Tahun

  • 22 Sep 2026 21:49 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Untuk memudahkan membagi waktu antara keluarga dan usaha akhirnya memanfaatkan garasi rumah di kawasan 22 Ilir Palembang menjadi tempat usaha pempek
  • Selain resep melegenda dari turun temurun pempek garasi 22 ini hanya menggunakan bahan baku ikan gabus
  • Keberhasilan mempertahankan usaha tidak hanya karena keuntungan tetapi ketekunan, konsistensi, kesabaran sehingga usaha pempek ini diharapkan akan terus berkembang dan optimis

RRI.CO.ID, Palembang - Memanfaatkan garasi rumah sebagai tempat usaha menjadi pilihan Erliza Dian Utama atau yang akrab disapa Mimi untuk tetap menjalankan usaha sekaligus membagi waktu bersama keluarga. Dari garasi rumah di kawasan 22 Ilir, Palembang, usaha Pempek Garasi 22 kini telah bertahan selama 22 tahun dengan mempertahankan resep keluarga yang menjadi ciri khasnya.

Mimi menceritakan perjalanan usahanya saat menjadi narasumber program UMKM Bicara di Studio Pro 1 RRI Palembang, Senin, 21 September 2026. Menurutnya, nama Garasi 22 dipilih karena usaha tersebut berada di kawasan 22 Ilir sekaligus menjadi bagian dari rumah tempat tinggal keluarganya.

“Nama Garasi 22 ini karena lokasinya memang di 22 Ilir. Angka 22 juga sudah menjadi bagian dari perjalanan usaha kami selama 22 tahun,” tuturnya.

Menurut Mimi, salah satu hal yang membuat Pempek Garasi 22 mampu bertahan adalah resep yang diwariskan secara turun-temurun. Resep tersebut terus dipertahankan sehingga menghasilkan cita rasa yang menjadi identitas usaha.

“Usaha pempek ini berbeda dengan pempek pada umumnya karena resep yang digunakan merupakan resep turun-temurun dari keluarga dan kami pertahankan sampai sekarang. Itu yang membuatnya dikenal sebagai pempek legendaris,” ujarnya.

Selain mempertahankan resep keluarga, Pempek Garasi 22 menggunakan ikan gabus sebagai bahan utama. Mimi mengatakan pempek dibuat menggunakan ikan gabus murni, meski pelanggan tetap dapat memesan varian dengan campuran ikan tenggiri sesuai permintaan.

Komposisi ikan yang digunakan juga dibuat lebih dominan dibandingkan sagu. Dalam setiap satu kilogram ikan, Mimi menggunakan sekitar 500 gram sagu dan air, kemudian ditambahkan garam serta sedikit penyedap untuk mempertahankan cita rasa.

Cita rasa pempek semakin lengkap dengan cuko yang menjadi bagian penting dalam penyajiannya. Untuk menjaga karakter rasa, Mimi menggunakan gula batok dari Lubuklinggau yang dipadukan dengan cabai rawit dan bawang putih.

Beragam jenis pempek seperti adaan, kulit, lenjer kecil dan besar, kapal selam, serta telur kecil tersedia melalui sistem pemesanan WhatsApp. Pesanan bahkan telah dikirim ke sejumlah kota seperti Medan, Bandung, dan Jakarta dalam bentuk frozen agar lebih mudah dikirim dan tetap mempertahankan kualitas produk.

Dalam menjalankan usaha selama lebih dari dua dekade, Mimi juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kenaikan harga ikan gabus dan sagu hingga pesanan pelanggan yang tidak diambil. Kondisi tersebut menjadi pengalaman untuk memperbaiki pengelolaan usaha sekaligus menjaga kualitas pelayanan.

Bagi Mimi, mempertahankan usaha tidak semata-mata tentang keuntungan. Ketekunan, konsistensi, dan kesabaran menjadi bagian penting agar usaha yang dibangun dari garasi rumah tersebut dapat terus bertahan dan berkembang.

“Keberhasilan mempertahankan usaha tidak hanya karena keuntungan, tetapi juga karena ketekunan, konsistensi, dan kesabaran. Kami berharap usaha pempek ini terus berkembang dan kami tetap optimistis menjalankannya,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....