Pemusik Jalanan, antara Apresiasi dan Stigma

  • 12 Apr 2026 07:20 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Kehadiran pemusik jalanan ini sudah lebih dari 40 tahun ada di Kota Palembang dari para senior senior dulu bertahan sampai saat ini dengan merubah pemikiran pemusik untuk lebih kreatif. Hal ini dijelaskan Masagus Vito Dewan Pengawas Komunitas Pemusik Jalanan Palembang ketika menjadi narasumber acara Obrolan Komunitas di Studio Pro 1 RRI Palembang, Kamis 9 April 2026.

Vito menerangkan, menjadi pemusik itu pesan dari para senior untuk tidak seperti katak dalam tempurung. Bisa lebih melihat kedepan dengan kemajuan saat ini dari segala hal termasuk menjalin keakraban antar anggota.

Pertemanan inilah yang akan membawa suatu perubahan dalam kekompakan sesama pemusik dan akhirnya akan merubah pemikiran. Berubah dari yang banyak pandangan negatif menjadi lebih baik ke pemusik jalanan.

Hal yang membuat stigma negatif itu karena ulah oknum tertentu yang menilai pemusik jalanan itu premanisme. Padahal yang dijual itu adalah karya suara yang sudah teruji hingga saat ini.

Bahkan banyak seniman besar saat ini berawal memulai karir dari pengamen jalanan seperti Iwan Fals, Doel Sumbang dan Franky. Hal inilah sudah merubah pandangan masyarakat terhadap pemusik jalanan.

"Istilah dulu ngamen cari uang dari hobi bernyanyi tetapi ternyata bukan hidup dari hal itu saja tapi penuh perjuangan untuk membongkar stigma negatif dari seorang pengamen saat itu," ujarnya.

Perkembangan positif terjadi ketika tahun 1990 para pemusik jalanan ini bisa diberi kesempatan untuk tampil di hotel ternama. Walaupun menjalani seleksi dan lagu yang sesuai keinginan pihak hotel.

Hal positif lain dirasakan setelah berhasil bekerja sama dengan Dewan Kesenian melalui pertemuan. Semua dilakukan keluarga besar Komunitas ini untuk membuat citra pengamen itu menjadi lebih baik.

Kolaborasi dengan pihak Pemerintah sangat diharapkan agar dapat menciptakan kultur yang lebih baik. Lebih ramah dan tetap harus terpola sehingga tidak ada lagi oknum yang membuat citra negatif.

"Untuk seluruh masyarakat dan kawan kawan pertanyaannya bukan lagi musik jalanan itu seniman atau penganggu tapi sudahkan kita dan Pemerintah memberi ruang yang layak untuk mereka menjadi seniman," pesan Vito menutup obrolan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....