Kegagalan Piala Asia: Timnas U23 Butuh Evaluasi Menyeluruh
- 10 Sep 2025 14:48 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Kegagalan Timnas Indonesia U23 lolos ke putaran final Piala Asia U23 2026 harus menjadi alarm keras bagi PSSI untuk segera melakukan evaluasi total. Bukan hanya pada hasil di lapangan, tetapi juga pada sistem pembinaan usia muda yang belum menunjukkan konsistensi.
Setelah pada edisi sebelumnya kita mampu melaju hingga semifinal, kali ini Garuda Muda justru terhenti di babak kualifikasi. Hasil ini menandai bahwa keberhasilan sebelumnya lebih disebabkan oleh momentum sesaat, bukan hasil dari sistem pembinaan yang kokoh dan berkelanjutan.
“Prestasi kita masih inkonsisten dan terlalu bergantung pada kualitas individu atau pelatih. Ini tanda bahwa sistem pembinaan belum bekerja optimal,” ujar pengamat sepakbola nasional M Kusnaeni, Rabu (10/9/2025).
Di atas kertas, materi pemain Timnas U23 sebenarnya tak bisa dianggap remeh. Bahkan beberapa nama dari Timnas senior ikut memperkuat skuad, seperti Rafael Struick, Rizky Ridho, Ferrari, dan Hokky Caraka.
Namun sayangnya, keberadaan pemain-pemain ini tidak diiringi dengan permainan kolektif yang matang. Hal ini menunjukkan bahwa pelatih Jean-Paul Vanenburg belum mampu memaksimalkan potensi penuh dari skuad yang dimilikinya.
“System of play yang dibangun pelatih belum bisa diterjemahkan baik oleh para pemain. Lini depan tidak tampil tajam dan terlalu mengandalkan kemampuan individu,” ungkap Kusnaeni.
Bertarung di grup yang dihuni tim kuat seperti Korea Selatan memang bukan tugas mudah. Tapi peluang lolos sebetulnya masih terbuka lebar, asal Timnas U23 tampil konsisten sejak laga pertama menghadapi Laos.
Sayangnya, tim asuhan Vanenburg tampil tak meyakinkan sejak awal. Kombinasi inkonsistensi, miskomunikasi antar lini, dan buruknya penyelesaian akhir menjadi masalah yang terus berulang sejak gelaran Piala AFF U23 lalu.
“Sudah terlihat dari Piala AFF, permainan belum stabil. Ada sedikit peningkatan di kualifikasi AFC, tapi belum cukup untuk bersaing dengan tim seperti Korea,” lanjut Kusnaeni.
Kegagalan ini harus menjadi bahan pembelajaran untuk menghadapi agenda penting berikutnya, yakni SEA Games 2025. Indonesia datang sebagai juara bertahan dan tentu memiliki beban untuk mempertahankan medali emas.
Evaluasi menyeluruh terhadap komposisi pemain, pemilihan pelatih, hingga pendekatan taktik perlu dilakukan dari sekarang. Timnas U23 membutuhkan perbaikan menyeluruh—bukan tambal sulam—agar bisa kembali berbicara banyak di ajang regional maupun Asia.
“Kita harus mulai memikirkan SEA Games. Evaluasi bukan hanya pada hasil, tapi bagaimana membangun tim yang solid dan berproses dengan benar,” tutup Kusnaeni.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....