Kemarau Kering Picu Karhutla, Asap Kembali Menyelimuti Palembang

  • 02 Okt 2026 12:22 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan meningkat dengan bertambahnya titik panas di berbagai wilayah selama periode kemarau.
  • Asap dari karhutla kembali menyelimuti Kota Palembang akibat peningkatan kebakaran di sekitarnya.
  • Kondisi kemarau semakin parah karena curah hujan dan kelembapan tanah rendah, diperburuk oleh fenomena El Nino yang memperpanjang periode kering.

RRI.CO.ID, Palembang - Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Sumatera Selatan kembali meningkat saat kondisi kemarau semakin kering. Bertambahnya titik panas di sejumlah wilayah turut menyebabkan asap kembali menyelimuti Kota Palembang.

Kondisi tersebut terjadi ketika curah hujan dan kelembapan tanah masih rendah dalam beberapa pekan terakhir. Situasi semakin kompleks karena sejumlah wilayah Sumsel masih dipengaruhi fenomena El Nino yang memperpanjang periode kering.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis mengatakan BMKG telah mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis sejak awal Agustus 2026. “Sejak awal Agustus kami sudah merilis peringatan dini kekeringan meteorologis, sehingga jumlah air yang masuk melalui hujan jauh lebih sedikit dibanding laju penguapan,” ujar Wandayantolis, Rabu, 30 September 2026.

Menurut Wandayantolis, rendahnya pasokan air membuat kelembapan tanah terus menurun dan lahan semakin mudah terbakar. Vegetasi yang mengering juga menjadi bahan bakar alami sehingga api lebih cepat muncul dan berkembang.

Ia menjelaskan kondisi kemarau tahun ini berbeda dari pola normal karena sejumlah wilayah Sumsel mengalami penurunan curah hujan signifikan. Wilayah timur Sumsel menjadi perhatian karena memiliki kawasan gambut yang membutuhkan tambahan hujan untuk memulihkan kelembapan tanah.

Perubahan kondisi tersebut terlihat dari pergerakan titik panas yang masih berfluktuasi dalam beberapa hari terakhir. Hotspot sempat menurun, tetapi kembali meningkat ketika lahan tetap kering dan titik kebakaran baru bermunculan.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan petugas kini menghadapi peningkatan lokasi kebakaran. “Kalau secara harian kami mampu memadamkan puluhan hektare, tetapi kejadian kebakarannya lebih dari ratusan hektare,” tutur Ferdian.

Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla saat ini. Sejumlah titik berada di kawasan gambut yang sulit dijangkau kendaraan maupun personel melalui jalur darat.

Ferdian menjelaskan kondisi gambut yang sangat kering membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang. Api dapat bertahan di bawah permukaan sehingga area yang tampak padam tetap harus menjalani pendinginan dan pemantauan.

“Pemadaman satu meter persegi saja bisa membutuhkan tiga sampai empat jam karena tanah gambut sangat kering dan api tidak mudah benar-benar mati,” ujar Ferdian. Kondisi tersebut membuat petugas harus melakukan pemadaman secara bertahap untuk memastikan api tidak kembali muncul.

Keterbatasan sumber air turut menjadi kendala dalam penanganan karhutla di sejumlah lokasi. Periode tanpa hujan yang panjang membuat sumber air semakin sulit ditemukan sehingga operasi pemadaman membutuhkan dukungan tambahan.

Asap tebal juga menghambat operasi udara karena mengurangi jarak pandang helikopter. Kondisi tersebut membatasi pelaksanaan pemadaman menggunakan metode pengeboman air atau water bombing.

Untuk memperkuat penanganan, sejumlah personel dari wilayah lain telah diperbantukan ke Sumatera Selatan. Operasi diprioritaskan di OKI, Banyuasin, Muara Enim, dan sejumlah kawasan sekitar Palembang yang mengalami kebakaran serta menghasilkan asap tinggi.

Arah angin dari wilayah timur Sumsel turut membawa asap menuju Palembang dan kawasan sekitarnya. “Kalau kondisi di lokasi terus kering, asap bisa semakin banyak bergerak ke arah Palembang dan membuat kondisi udara kembali memburuk,” kata Ferdian.

Karhutla juga terjadi di kawasan perkotaan dan wilayah yang berdekatan dengan permukiman, termasuk Sematang Borang, Palembang. Penanganannya melibatkan Manggala Agni, BPBD, pemadam kebakaran, TNI, dan Polri sesuai wilayah serta tugas masing-masing.

Selain kondisi medan, keselamatan personel menjadi perhatian karena operasi penanganan berlangsung cukup panjang. “Keselamatan anggota menjadi hal yang nomor satu karena durasi operasi sudah cukup panjang dan kondisi asap juga semakin berat,” tutur Ferdian.

Pemerintah juga melakukan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang mengalami kekeringan. Namun, Wandayantolis menjelaskan keberhasilannya sangat bergantung pada keberadaan dan perkembangan awan yang memenuhi kondisi tertentu.

“Modifikasi cuaca sangat bergantung pada adanya bibit awan, sedangkan pertumbuhan awan tidak merata di seluruh wilayah,” katanya. Karena itu, hujan yang turun di sebagian wilayah belum otomatis mengakhiri kondisi kering di seluruh Sumsel.

Penanganan karhutla membutuhkan langkah berlapis, mulai dari pemantauan titik panas hingga pemadaman dan patroli setelah api padam. Koordinasi antarlembaga juga diperlukan agar titik api baru segera ditangani sebelum berkembang lebih luas.

Masyarakat diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar selama kondisi kemarau masih berlangsung. Warga juga diimbau segera melaporkan titik api serta memperhatikan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.

Hingga akhir September 2026, penanganan karhutla Sumsel masih menghadapi kombinasi kekeringan, kondisi gambut, keterbatasan sumber air, arah angin, dan jarak pandang. Kewaspadaan serta koordinasi seluruh pihak diperlukan untuk menekan perluasan kebakaran dan mengurangi dampak asap terhadap Palembang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....