WALHI Sumsel Peringati Hari Keadilan Ekologis, Dorong Peran Orang Muda

  • 22 Sep 2026 10:22 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • WALHI Sumatera Selatan memperingati Hari Keadilan Ekologis 2026 melalui agenda “Suara Orang Muda Menuntut Keadilan Ekologis dan Antargenerasi” di Palembang.
  • Sekitar 51 peserta terlibat dalam diskusi dan refleksi lingkungan, membahas krisis iklim, kerusakan ekosistem, pencemaran, hingga Karhutla di Sumatera Selatan.
  • WALHI mendorong keterlibatan orang muda dan masyarakat sipil untuk memperkuat kesadaran, menghasilkan rekomendasi, serta mendorong advokasi lingkungan secara berkelanjutan.

RRI.CO.ID, Palembang - Dalam rangka memperingati Hari Keadilan Ekologis (HKE) 2026, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Selatan menggelar sejumlah agenda untuk merefleksikan berbagai persoalan lingkungan, seperti diskusi mendalam dan peserta diajak untuk mengambar tentang situasi lingkungan di Prov. Sumatera Selatan dan harapan keadilan ekologis. Kegiatan ini berlangsung di Kopi 16 Pro, 16 ilir Palembang. Minggu 20 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00 hingga 19.30 WIB tersebut menjadi ruang refleksi terhadap berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di Sumatera Selatan. Agenda ini diikuti sekitar 51 peserta dari berbagai organisasi dan lembaga masyarakat sipil di Sumatera Selatan.

Fasilitator Agenda Suara Orang Muda Menuntut Keadilan ekologis dan Antargenerasi, Fachry Rafi Al Ghifari mengatakan peringatan Hari Keadilan Ekologis bertujuan memperkenalkan momentum tersebut kepada publik sekaligus mendorong pemahaman mengenai pentingnya keadilan antargenerasi.

Menurut Fachry, Hari Keadilan Ekologis diperingati setiap 20 September. Momentum tersebut berawal dari Deklarasi Sumba tentang Keadilan Ekologis yang lahir dalam Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup ke-14 WALHI di Pulau Sumba pada 2025.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak membahas sejumlah persoalan lingkungan, mulai dari krisis iklim, kerusakan hutan dan gambut, pencemaran sungai, banjir, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Fachry juga menekankan pentingnya menjaga lingkungan sebagai tanggung jawab lintas generasi. “Kita harus menjaga bumi. Karena bumi bukanlah warisan leluhur yang bebas kita habiskan, melainkan titipan generasi mendatang yang harus kita jaga,” ujarnya.

Selain diskusi, peserta juga diajak menggambarkan kondisi lingkungan di Sumatera Selatan serta menyampaikan harapan terhadap terwujudnya keadilan ekologis. Kegiatan ini diharapkan dapat membuka ruang bagi orang muda untuk menyampaikan pandangan mengenai persoalan lingkungan di daerahnya.

Fachry mengatakan, persoalan lingkungan tidak selalu memberikan dampak yang sama kepada seluruh masyarakat. Karena itu, pemahaman mengenai keadilan ekologis dan antargenerasi dinilai penting dalam melihat dampak kerusakan lingkungan terhadap masyarakat saat ini maupun generasi mendatang.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan pemahaman kritis masyarakat sipil dan orang muda terhadap berbagai persoalan lingkungan, khususnya Karhutla yang menjadi salah satu persoalan ekologis di Sumatera Selatan.

Menurut Fachry, peringatan Hari Keadilan Ekologis diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membangun kesadaran kritis, memperkuat konsolidasi gerakan, serta mendorong aksi nyata dalam merespons krisis lingkungan.

Keterlibatan orang muda dan jaringan masyarakat sipil, lanjutnya, diharapkan dapat melahirkan berbagai inisiatif, rekomendasi, serta langkah advokasi berkelanjutan. Upaya tersebut diarahkan untuk mendorong tata kelola lingkungan yang lebih adil, berkelanjutan dan melindungi ruang hidup masyarakat.

Ia berharap Hari Keadilan Ekologis dapat menjadi pengingat bahwa upaya menjaga lingkungan membutuhkan komitmen jangka panjang. “Hari Keadilan Ekologis Nasional adalah pengingat bahwa perjuangan ini adalah maraton lintas generasi, bukan sekadar seremoni tahunan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....