Sebanyak 48 Eks Jamaah Islamiyah Sumsel Berikrar Setia NKRI di Palembang
- 17 Sep 2026 08:00 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Sebanyak 48 mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) dari Palembang dan OKI mengikuti seminar "Jalan Menuju Wasathiyah" yang diselenggarakan oleh Densus 88 Antiteror Polri bersama Yayasan Prasasti Perdamaian di Palembang.
- Penguatan Komitmen Kebangsaan dan Moderasi Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman peserta terhadap nilai-nilai wasathiyah, toleransi, serta meneguhkan kembali komitmen terhadap Pancasila, UUD 1945, dan NKRI.
- Para narasumber, termasuk eks pimpinan JI, menekankan pentingnya ilmu, penerimaan terhadap NKRI, serta pengarahan transformasi melalui aksi nyata yang tertib seperti penyesuaian kurikulum pesantren
RRI.CO.ID, Palembang - Sebanyak 48 mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) di Sumatera Selatan mengikuti seminar transformasi ideologi yang digelar Densus 88 Antiteror Polri bersama Yayasan Prasasti Perdamaian di Palembang, Rabu, 16 September 2026.
Seminar bertajuk “Jalan Menuju Wasathiyah, Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat dan Moderat” itu menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai sikap moderat, toleransi, keberagaman, serta komitmen terhadap Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dari 48 peserta, sebanyak 29 orang merupakan eks anggota JI dari Kota Palembang dan 19 lainnya berasal dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Materi transformasi pemahaman disampaikan tiga narasumber dari Rumah Wasathiyah, yakni Ustaz Para Wijayanto, Ustaz Choirul Anam alias Bravo, dan Ustaz Suhardi alias Abu Hasan.
Ustaz Suhardi menekankan pentingnya ilmu sebagai dasar dalam mengubah pemahaman. Menurut dia, kesediaan untuk kembali kepada kebenaran berdasarkan ilmu dan dalil merupakan bagian dari sikap istiqamah.
Sementara itu, Para Wijayanto membahas penerimaan terhadap NKRI serta perbedaan antara wilayah hukum yang bersifat tetap dan wilayah ijtihadi yang memungkinkan adanya aturan untuk kemaslahatan masyarakat.
Transformasi, kata Wijayanto, tidak cukup berhenti pada perubahan pemahaman, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan konkret yang tertib dan menjauhi ekstremisme.
“Pengarahan transformasi dititikberatkan pada langkah konkret yang teratur tanpa ada unsur ekstremisme, yang diimplementasikan melalui penyesuaian kurikulum di lingkungan pesantren dan dorongan berkontribusi di pemerintahan,” ujar Wijayanto.
Dalam sesi dialog, peserta juga membahas sejumlah isu terkait proses transformasi, termasuk manfaat pembubaran JI, konsistensi menjalankan keputusan bersama, serta pentingnya menjaga perubahan pemahaman melalui pendekatan damai dan konstruktif.
Seminar tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai wasathiyah atau sikap moderat dalam kehidupan bermasyarakat. Peserta didorong untuk menempatkan toleransi, penghormatan terhadap perbedaan dan komitmen kebangsaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kegiatan berlangsung di Fave Hotel Palembang dan diikuti seluruh peserta hingga selesai. Rangkaian acara ditutup dengan pengisian kuesioner dan dialog peserta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....