Bidar Kembali Berpacu di Sungai Lematang setelah Delapan Tahun Vakum
- 19 Agt 2026 15:05 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Lomba Bidar kembali digelar di Sungai Lematang, Kelurahan Payuputat, Kota Prabumulih pada 18 Agustus 2026 setelah vakum hampir delapan tahun.
- Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
- Bagi masyarakat Payuputat, kembalinya lomba Bidar merupakan upaya menghidupkan kembali warisan budaya yang telah dikenal sejak 2010.
RRI.CO.ID, Prabumulih - Suara kayuhan dayung kembali memecah aliran Sungai Lematang di Kelurahan Payuputat, Kecamatan Prabumulih Barat, Kota Prabumulih. Setelah sempat vakum selama hampir delapan tahun, lomba Bidar kembali digelar masyarakat pada Selasa, 18 Agustus 2026, bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi masyarakat Payuputat, kembalinya lomba Bidar bukan sekadar menghadirkan tontonan di sungai. Tradisi ini menjadi upaya menghidupkan kembali warisan budaya yang telah dikenal masyarakat sejak 2010.
Tokoh masyarakat Payuputat, Ahmadi, mengatakan tradisi Bidar yang berkembang di wilayah tersebut memiliki akar dari kebiasaan leluhur menggunakan perahu tradisional.
“Awalnya dari tahun 2010. Sebenarnya dari nenek moyang, menggunakan perahu tradisional model perahu jalur yang dibuat dari balok,” ujar Ahmadi.
Tradisi tersebut kemudian sempat terhenti selama bertahun-tahun. Masyarakat mulai berupaya menghidupkannya kembali melalui gotong royong yang melibatkan RT, RW, pemerintah kelurahan, pemerintah kecamatan dan warga.
Upaya itu membuahkan hasil. Lomba Bidar kembali terlaksana dan tahun ini digelar dengan skala yang lebih besar.
Peserta tidak hanya berasal dari Payuputat. Sejumlah daerah seperti Desa Bodong, Curup, Kuripan dan Talang Babat turut mengirimkan tim untuk berlomba di Sungai Lematang.
Tahun ini tercatat sekitar 42 tim mengikuti perlombaan. Setiap perahu diisi tujuh orang peserta, membuat persaingan di lintasan sungai berlangsung sekaligus menjadi daya tarik bagi masyarakat yang menyaksikan dari tepian.
Bagi Ahmadi, jumlah peserta yang terus bertambah menjadi tanda bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Karena itu, lomba Bidar diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan perayaan kemerdekaan.
“Pelaksanaan lomba Bidar bukan hanya untuk hiburan atau perlombaan, tetapi juga bagian dari pelestarian budaya,” kata Ahmadi.
Ke depan, masyarakat Payuputat berencana mengembangkan lomba Bidar sebagai bagian dari peringatan hari jadi kelurahan. Dengan begitu, tradisi tersebut memiliki ruang yang lebih luas untuk terus diperkenalkan kepada generasi muda sekaligus masyarakat dari luar daerah.
Di tengah derasnya perubahan zaman, Bidar menjadi cara masyarakat Payuputat menjaga ingatan tentang leluhur. Di sungai yang sama, warga tidak hanya berlomba menjadi yang tercepat, tetapi juga berusaha memastikan tradisi yang sempat tenggelam selama bertahun-tahun kembali menjadi bagian dari identitas budaya Payuputat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....