Menjaga Daya Beli Masyarakat di tengah Kenaikan Harga Pangan
- 20 Agt 2026 13:51 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Harga sejumlah pangan naik, terutama beras, cabai, telur, minyak goreng, dan ayam.
- Stok pangan Sumsel masih aman, sementara pemerintah terus menjaga pasokan dan stabilitas harga.
- Harga cabai dan beras berpotensi berubah, dipengaruhi musim, produksi, dan kondisi pasokan.
RRI.CO.ID, Palembang - Harga sejumlah komoditas pangan di Sumatera Selatan mengalami kenaikan sejak awal tahun 2026. Kenaikan paling terasa pada beras, cabai, telur, dan minyak goreng. Untuk menjaga daya beli masyarakat, Pemprov Sumsel bersama Pemkot/Pemkab dan Bulog bergerak cepat melalui operasi pasar, subsidi, dan bantuan pangan.
Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat karena berpengaruh terhadap daya beli rumah tangga. Yunilna, selaku Analis Ketahanan Pangan Ahli Madya DKPP Provinsi Sumatera Selatan pada saat Dialog Palembang Menyapa di PRO 1 RRI Palembang Selasa, 11 Agustus 2026 mengatakan, sejumlah komoditas pangan yang menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari terus mendapatkan perhatian, di antaranya bawang putih, bawang merah, ayam, dan berbagai bahan pangan lainnya.
Menurutnya, perubahan harga pangan salah satunya dipengaruhi oleh peningkatan konsumsi masyarakat. Ketika permintaan terhadap suatu komoditas meningkat, kondisi tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap harga di pasaran.
“Komoditas mendapatkan perhatian kita untuk kebutuhan masyarakat setiap hari, seperti bawang putih, bawang merah, ayam dan lainnya,” ujar Yunilna.
Ia menambahkan, secara umum kondisi ketersediaan pangan di Sumatera Selatan saat ini masih aman. Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga dan memastikan pasokan pangan tetap tersedia bagi masyarakat.
“Kondisi pangan saat ini aman dan selalu kita jaga harga dan pemasokan. Dari sisi besar, kita cukup kuat,” katanya.
Yunilna menjelaskan, ketersediaan pasokan pangan di Sumatera Selatan saat ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pengawasan terhadap distribusi dan pasokan terus dilakukan agar kebutuhan pangan tetap dapat dipenuhi.
Sementara itu, Sukanto selaku Dosen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, menilai kondisi harga sejumlah komoditas pangan masih berada pada tingkat yang relatif terjangkau dan stabil. Namun, ia memberikan perhatian khusus terhadap komoditas cabai yang menghadapi potensi kenaikan harga ketika memasuki musim kemarau.
“Cukup spesifik, terjangkau dan stabil. Tetapi cabai memasuki musim kemarau sangat mengkhawatirkan,” ungkap Sukanto.
Ia menjelaskan, kenaikan harga komoditas juga dipengaruhi oleh karakteristik masing-masing bahan pangan. Salah satunya bawang putih yang sebagian kebutuhan dalam negeri masih bergantung pada impor sehingga perubahan kondisi eksternal dapat memengaruhi harga di tingkat konsumen.
“Komoditas yang naik dari sisi seperti bawang putih, kan kita impor,” jelasnya.
kondisi stok beras kemasan lima kilogram berkaitan dengan periode produksi padi yang sedang memasuki masa penanaman. Kondisi tersebut menyebabkan produksi beras mengalami penurunan sementara.
Ia menyebutkan, produksi padi akan kembali meningkat ketika memasuki musim panen pada Agustus. Sementara pada September, ketersediaan beras diperkirakan kembali normal.
“Untuk beras, di periode produksi padi kita sekarang musim penanaman, jadi ada penurunan produksi beras. Tetapi di Agustus akan ada musim panen. Stok yang kosong mungkin karena penurunan produksi beras, sehingga lebih difokuskan dengan kemasan 10 kilogram dari produksi. Di September akan kembali normal,” jelas Yunilna.
Terkait kenaikan harga ayam, Yunilna mengatakan harga perlu disesuaikan dengan kondisi harga di tingkat peternak. Menurutnya, pemerintah tidak dapat menekan harga ayam terlalu rendah karena harus mempertimbangkan keberlangsungan usaha peternak.
Ia menyebutkan harga ayam saat ini berada di kisaran Rp38 ribu per kilogram dan perlu disesuaikan dengan harga yang berlaku.
“Untuk ayam naik ke Rp38 ribu per kilogram, disesuaikan dengan HPP. Kita tidak bisa menekan hargaayam murah, kasihan dengan peternak,” ujarnya.
Sukanto menambahkan, kenaikan harga daging ayam berkaitan dengan peningkatan permintaan yang relatif stabil. Kondisi tersebut turut mendorong harga ayam berada di sekitar Rp38 ribu per kilogram.
Menurutnya, keberadaan program MBG juga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan permintaan pada periode tertentu. Sebaliknya, ketika memasuki masa libur, permintaan dapat mengalami penurunan sehingga harga berpotensi ikut turun.
“Untuk daging ayam, karena peningkatan permintaan stabil, jadi meningkat Rp38 ribu sekilo. Untuk MBG, peningkatan permintaan stabil sehingga naik ke Rp38 ribu. Waktu libur turun karena peningkatan permintaan turun,” kata Sukanto.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....