Kisah Firdaus, Bertahan Menembus Gelombang Sungai Musi Demi Dapur
- 12 Agt 2026 06:01 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Firdaus adalah seorang sopir ketek di perairan Palembang yang bekerja setiap hari dengan harapan mendapatkan rezeki untuk keluarganya.
- Sebagai kepala keluarga, Firdaus memiliki tanggung jawab untuk menghidupi tiga orang anak yang masih bersekolah dengan pendapatan yang tidak selalu menentu.
- Meskipun menghadapi kesulitan ekonomi, Firdaus tetap berjuang keras karena kebutuhan keluarganya yang terus-menerus, terutama untuk biaya pendidikan anak-anaknya.
RRI.CO.ID, Palembang - Terik matahari menjadi bagian dari keseharian Firdaus, sopir ketek yang melayani penyeberangan di perairan Palembang. Di atas perahu kecilnya, ia menunggu penumpang datang sambil berharap setiap perjalanan membawa rezeki untuk keluarganya.
Warga Lima Ulu, Palembang itu merupakan kepala keluarga dengan tiga orang anak yang seluruhnya masih bersekolah. Kondisi tersebut membuat Firdaus harus tetap bekerja, meski pendapatan sebagai sopir ketek tidak selalu menentu. Kepada RRI saat ditemui, di benteng kuto besak Palembang, Selasa 11 Agutus 2026. Firdaus menceritakan perjuangannya mencari nafkah di tengah kebutuhan keluarga yang terus berjalan.
Menurut Firdaus, salah satu tantangan yang kini dirasakannya adalah meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan biaya operasional tersebut cukup membebani karena jumlah penumpang tidak selalu ramai. Sementara tarif penyeberangan mulai dari tujuh ulu, empat ulu dan satu ulu yang dikenakan kepada penumpang masih Rp5 ribu untuk sekali perjalanan.
"Kalau penumpang ramai, alhamdulillah. Tapi kalau sepi, pendapatan juga berkurang, sementara BBM tetap harus dibeli," ujar Firdaus kepada RRI, Selasa 11 Agutus 2026..
Harapan memperoleh penghasilan lebih besar biasanya datang pada momen tertentu, salah satunya ketika perayaan Ceng Beng di kawasan Pulau Kemaro. Pada saat itu, aktivitas masyarakat dan kunjungan wisatawan meningkat sehingga permintaan jasa ketek ikut bertambah. Kondisi tersebut menjadi kesempatan bagi Firdaus untuk mendapatkan tambahan penghasilan dibandingkan hari biasa.
Firdaus mengatakan, pada momen ramai tersebut dirinya pernah membawa satu kelompok wisatawan yang berjumlah 15 orang dengan tarif Rp200 ribu untuk sekali perjalanan. Penghasilan dari perjalanan kelompok tersebut menjadi tambahan berarti bagi keluarganya. Namun, kesempatan memperoleh pendapatan lebih besar tidak datang setiap hari karena bergantung pada jumlah wisatawan dan momentum tertentu.
Di luar momen ramai, Firdaus kembali mengandalkan penumpang reguler dengan tarif Rp5 ribu. Ia harus menunggu penumpang sekaligus menghitung biaya BBM dan operasional ketek. Meski panas matahari, pendapatan yang tidak menentu, serta biaya operasional menjadi tantangan, Firdaus tetap bertahan. Baginya, setiap kali ketek meninggalkan tepian sungai, ada harapan rezeki yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan ketiga anaknya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....