Generasi Stroberi Kreatif, tetapi Rentan Menghadapi Tekanan

  • 09 Agt 2026 12:57 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Mengutip pemikiran Prof. Rhenald Kasali generasi stroberi merupakan generasi yang penuh dengan gagasan kreatif dan memiliki inovasi tinggi tapi di saat sama cenderung mudah menyerah, egois serta pesimis terhadap masa depan.
  • Hal lain yang sering terjadi adalah anak muda generasi stroberi ini tidak bisa mengontrol diri baik waktu, fikiran, emosi dan arah hidup mereka yang tidak dapat dirasakan apalagi untuk menyadari perubahan yang terjadi pada diri sendiri,
  • Generasi stroberi sesungguhnya bukanlah sebuah kegagalan tetapi mereka membutuhkan cara yang tidak biasa untuk berkembang, diharapkan orang tua dan lingkungan pendidikan dan masyarakat untuk saling mendukung

RRI.CO.ID, Palembang - Generasi stroberi dinilai memiliki kreativitas dan inovasi tinggi, tetapi cenderung mudah menyerah serta pesimis menghadapi tekanan kehidupan. Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui penguatan kemampuan mengelola emosi, kemandirian, dan dukungan lingkungan.

Dosen Luar Biasa Fakultas Psikologi dan Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang, Melisa Paulina, menyampaikan hal tersebut dalam Seminar Perempuan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Sumsel. Kegiatan berlangsung di Auditorium LLDIKTI Wilayah II Palembang, Kamis, 6 Agustus 2026.

Melisa mengutip pemikiran Prof. Rhenald Kasali yang menggambarkan generasi stroberi sebagai generasi dengan banyak gagasan kreatif dan inovatif. Namun, generasi tersebut dinilai memiliki kerentanan ketika menghadapi tekanan dan realitas kehidupan.

Menurut Melisa, pesimisme terhadap masa depan menjadi salah satu fenomena yang banyak ditemukan ketika generasi muda menghadapi persoalan kehidupan. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi pola interaksi dan kebiasaan generasi muda di ruang digital.

Fenomena tersebut terlihat dari penggunaan gawai yang berlebihan hingga berkurangnya interaksi langsung dengan lingkungan sekitar. Pengakuan melalui komentar dan media sosial juga dapat memengaruhi cara generasi muda menilai dirinya sendiri.

"Generasi stroberi ini tidak bisa mengontrol diri, baik waktu, pikiran, emosi, maupun arah hidup mereka. Kondisi itu membuat mereka sulit menyadari perubahan yang terjadi pada diri sendiri," ujar Melisa.

Melisa juga menyoroti maraknya konten tidak bermoral yang dikonsumsi secara terus-menerus melalui berbagai platform digital. Menurutnya, paparan konten tersebut dapat merusak karakter dan mengikis nilai yang seharusnya dijaga generasi muda.

Ia meminta orang tua dan lingkungan sekitar mengenali tanda ketika tekanan psikologis mulai mengganggu keseharian anak. Beberapa tanda tersebut antara lain stres berlebihan, pikiran yang terus aktif, sulit merasa nyaman, mudah tersinggung, dan munculnya rasa bersalah secara berlebihan.

Menurut Melisa, orang tua memiliki peran penting dalam membekali anak dengan kemampuan mengelola emosi sejak usia dini. Anak juga perlu dilatih mandiri dan diberi kesempatan menghadapi persoalan agar mampu membangun kepercayaan diri.

Orang tua juga disarankan memberikan tanggung jawab kepada anak terhadap keputusan yang dibuatnya. Peran orang tua lebih diarahkan sebagai pendamping yang membantu anak menemukan solusi dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Penggunaan gawai juga perlu mendapat batasan yang jelas agar tidak mengganggu perkembangan anak. Orang tua diminta menjadi teladan melalui sikap positif, kepedulian, dan pola interaksi yang sehat.

"Generasi stroberi bukan sebuah kegagalan, tetapi mereka membutuhkan cara yang tidak biasa untuk berkembang. Orang tua, lingkungan pendidikan, dan masyarakat perlu saling mendukung untuk membentuk generasi tangguh," pesan Melisa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....