Pensiun Buruh Bangunan, Lansia Palembang Bertahan Hidup Jual Kemplang Keliling

  • 03 Agt 2026 08:15 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Nanang, pedagang lansia berusia 65 tahun, tetap aktif menjalankan usaha kemplang di Jalan RE Martadinata, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang.
  • Usaha penjualan kemplang menjadi sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya di tengah keterbatasan fisik.
  • Semangat berjualan Nanang menunjukkan dedikasi pedagang lansia dalam mempertahankan UMKM tradisional meski menghadapi tantangan usia.

RRI.CO. ID, Palembang - Di usia 65 tahun, Nanang tetap bersemangat mencari nafkah dengan berjualan kemplang di kawasan Jalan RE Martadinata, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. Usaha tersebut menjadi sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya di tengah keterbatasan fisik akibat usia.

Nanang telah menjalani usaha berjualan kemplang selama sekitar satu setengah tahun setelah memutuskan berhenti bekerja sebagai buruh bangunan. Pekerjaan lamanya tidak lagi dapat dijalani karena kondisi fisik yang sudah tidak sekuat saat masih muda.

Berjualan kemplang dipilih Nanang karena dinilai masih mampu memberikan penghasilan. Kemplang yang dijual diperoleh dari agen dengan harga Rp17.000 per bungkus, kemudian dijual kembali seharga Rp20.000 sehingga ia memperoleh keuntungan sekitar Rp3.000 untuk setiap bungkus yang terjual.

"Dulu saya kerja sebagai buruh bangunan. Sekarang sudah tidak sanggup lagi karena umur, jadi memilih jualan kemplang untuk mencari nafkah," ujar Nanang, Minggu 2 Agustus 2026.

Setiap hari Nanang mulai berjualan pukul 10.00 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB. Ia memilih menetap di depan sebuah rumah makan di Jalan RE Martadinata karena menilai hasil penjualan tidak jauh berbeda dibandingkan harus berkeliling menggunakan sepeda.

Pembeli kemplang Nanang berasal dari pelanggan rumah makan maupun pengendara yang melintas. Konsumennya berasal dari berbagai kalangan, meski sebagian besar merupakan pembeli rumah makan tersebut.

Pendapatan yang diperoleh Nanang tidak menentu. Pada hari-hari ramai, seluruh dagangannya dapat habis terjual dengan omzet sekitar Rp300.000 hingga Rp350.000. Sementara pada hari biasa, omzetnya berkisar antara Rp60.000 hingga Rp100.000 per hari, meski sedikitnya dua hingga tiga bungkus hampir selalu terjual.

"Kalau berkeliling capek di kaki, hasilnya menurut saya sama saja dengan mangkal di sini. Jadi saya memilih menetap saja sambil menunggu pembeli datang," katanya.

Bagi Nanang, hasil berjualan kemplang tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membayar biaya kontrakan serta membantu membiayai pendidikan anaknya. Usaha tersebut kini menjadi tumpuan utama ekonomi keluarganya.

Nanang berharap usahanya tetap berjalan lancar sehingga dapat terus menghidupi keluarga. Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian kepada para lansia yang masih bekerja mencari nafkah agar mereka memperoleh dukungan untuk mempertahankan usahanya.

Laporan: M. Wirya Gunawan, Mahasiswa magang Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....