Petani Karet di OKU Terjepit, Biaya Naik Kriminalitas Ikut Meningkat
- 28 Jun 2026 17:00 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Kenaikan dolar dan bahan bakar minyak (BBM) ternyata memiliki dampak pada kegiatan ekonomi desa di Sumatera Selatan. Contohnya adalah yang dihadapi para petani dan pelaku UMKM di Desa Saung Naga, Kabupaten Ogan Komering Ulu.
Dosen Manajemen ITB Bina Sriwijaya Palembang, Nurussama, hadir di Santai Siang Pro 2 RRI Palembang, Jumat, 26 Juni 2026. Ia membagikan kondisi kegiatan ekonomi sebagai pelaksana program penelitian pengabdian sekaligus pelaku UMKM ATK di Desa Saung Naga.
Ia menilai, desa tersebut memiliki komoditas ekonomi yang melimpah, salah satunya perkebunan karet dan kopi. Namun, kenaikan dolar dan BBM cukup memberikan dampak pada kenaikan harga perlengkapan berkebun yang harus dibeli petani secara mandiri.
Nurussama mengatakan bahwa harga bahan kimia pembeku getah kenaikan signifikan. “Harganya naik dari sekitar Rp12.000 sampai Rp15.000 menjadi Rp17.000 hingga Rp20.000,” jelasnya.
Kabar baiknya, petani karet menerima harga penjualan yang turut naik mencapai Rp21.000 per kilogram. Namun, kondisi ini malah meningkatkan kriminalitas kepada petani karet di desa tersebut.
“Banyak pencurian terjadi pada masa tunggu karet yang sedang dikeringkan di kebun sebelum hari penimbangan,” ujar Nurussama. Menurutnya, pengawasan sulit dilakukan karena luas kebun karet dan lokasi yang jauh dari pemukiman.
Sementara itu, Nurussama menyampaikan, pelaku UMKM di desa ini masih berskala mikro, seperti warung atau toko kebutuhan harian. Pelaku UMKM kesulitan mendapatkan barang dagangan lengkap, apalagi perlengkapan ATK tertentu.
“UMKM kuliner juga sangat sedikit karena sistem penjualannya mengantarkan langsung ke rumah pembeli tanpa ada layanan pesan antar,” tuturnya. Ia menambahkan, promosi hanya dilakukan melalui WhatsApp dan Facebook.
Ia juga mengatakan, kondisi internet dan listrik masih belum berkembang sepesat pusat kota. Warga desa hanya mampu membeli kuota internet harian, dan terkadang sinyal tidak stabil.
Nurussama berharap, masyarakat dapat menyadari bahwa perkembangan ekonomi belum merata, khususnya di desa terpencil. Selain itu, fasilitas jalan umum dan jalan menuju kebun juga masih perlu perhatian lebih.
Ia berharap, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dapat berkolaborasi dalam mengembangkan potensi daerah Sumatera Selatan. “Kalau memang kita bisa berkolaborasi menyelesaikan masalah ini dari bawah, insyaallah sebuah desa itu akan mandiri, berdikari sendiri,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....