Indonesia-Korea Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla lewat Teknologi Terpadu

  • 20 Jun 2026 14:45 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Pemerintah Indonesia dan Korea memperkuat pengendalian karhutla di OKI melalui pengembangan sistem teknologi terpusat di Forest and Land Fire Management Center untuk menghadapi risiko kebakaran akibat El Niño dan perubahan iklim.
  • Sistem yang dikembangkan mampu memantau kelembaban lahan gambut secara real time, mendeteksi hotspot, memonitor pergerakan petugas, serta menyediakan data pendukung pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
  • Keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia, peningkatan kapasitas petugas, serta kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan kebakaran.

RRI.CO.ID, OKI - Kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Korea semakin memperkuat kesiapsiagaan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Penguatan ini dilakukan melalui pengembangan sistem berbasis teknologi yang terpusat di Forest and Land Fire Management Center, Markas Daops Manggala Agni OKI di Sepucuk, Kayuagung.

Pengembangan sistem tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi menghadapi ancaman fenomena El Niño yang diperkirakan memicu musim kemarau lebih panjang. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko terjadinya karhutla, khususnya di wilayah lahan gambut yang rentan terbakar.

Bupati Ogan Komering Ilir, Muchendi Mahzareki menegaskan, tantangan perubahan iklim menuntut strategi pengendalian karhutla yang lebih adaptif, terintegrasi dan berbasis teknologi.

Menurut Muchendi, upaya pencegahan karhutla saat ini tidak lagi cukup mengandalkan metode konvensional. Diperlukan dukungan teknologi modern, kesiapan personel di lapangan serta kolaborasi yang berkelanjutan antar berbagai pihak.

" Kerja sama Indonesia-Korea memiliki peran penting dalam mendorong pertukaran pengetahuan, pengalaman dan pemanfaatan teknologi untuk memperkuat kapasitas pengendalian karhutla," ujar Muchendi saat mengunjungi Daops Manggala Agni OKI, Jumat, 19 Juni 2026.

Ia menilai keberadaan teknologi yang canggih tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa didukung sumber daya manusia yang kompeten dan siap bertugas di lapangan. Peningkatan kapasitas personel menjadi salah satu fokus utama dalam pengendalian karhutla.

Selain kesiapan petugas, keberhasilan pencegahan kebakaran juga sangat bergantung pada sinergi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah, perusahaan pemegang konsesi dan masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga wilayah dari ancaman kebakaran.

Muchendi menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat pendukung. Kunci utama keberhasilan pengendalian karhutla tetap terletak pada kesiapsiagaan petugas serta komitmen bersama seluruh pihak untuk melakukan pencegahan sejak dini.

Sementara itu, Kepala Daops Manggala Agni OKI, Edi Satriawan, menjelaskan, pengembangan Forest and Land Fire Management Center mencakup pembangunan pusat komando dan pelatihan, peningkatan kapasitas personel, penyediaan sarana pendukung serta pengembangan sistem teknologi informasi.

Melalui sistem tersebut, petugas dapat memantau tingkat kelembaban lahan gambut secara real time. Ambang batas toleransi ditetapkan sebesar 40 persen, sehingga ketika tingkat kelembaban berada di bawah angka tersebut, potensi kebakaran dapat segera diantisipasi melalui langkah-langkah pencegahan.

"Selain memantau kelembaban gambut, sistem juga mampu mendeteksi titik panas (hotspot), memonitor pergerakan petugas di lapangan serta menyediakan data yang dibutuhkan untuk mendukung pengambilan keputusan secara cepat dan tepat." tutur Edi Satriawan.

Edi menambahkan, penguatan fasilitas terus dilakukan melalui pembangunan Asrama Manggala Agni sebagai bagian dari proyek Development of Forest and Land Fire Management System in South Sumatra.

Sejak diresmikan, gedung Forest and Land Fire Management Center telah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan peningkatan kapasitas, termasuk pelatihan internasional penanggulangan karhutla gambut yang diselenggarakan AFoCo pada 20–24 April 2026 dan diikuti peserta dari enam negara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....