Peringati Hari Laut Sedunia: Mikroplastik Sungai Musi Ancam Kesehatan
- 11 Jun 2026 10:31 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Sungai Musi terpapar berbagai pencemar, terutama sampah plastik yang menghasilkan mikroplastik.
- Mikroplastik ditemukan di air, sedimen, ikan, dan kerang di kawasan Sungai Musi dan Sungsang.
- Pencemaran mikroplastik berpotensi berdampak pada kesehatan manusia melalui rantai makanan.
RRI.CO.ID, Palembang - Peringatan Hari Laut Sedunia yang diperingati setiap 8 Juni menjadi momentum untuk menjaga kondisi perairan di Sumatera Selatan yang terus menghadapi tekanan pencemaran lingkungan. Salah satu persoalan yang kini menjadi perhatian adalah keberadaan mikroplastik di Sungai Musi hingga kawasan muaranya di Sungsang.
Dosen Ilmu Kelautan Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, Ahmad mengungkapkan bahwa Sungai Musi saat ini telah terpapar berbagai zat pencemar. Mulai dari logam berat, pestisida, senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) hingga sampah plastik yang dinilai menjadi masalah paling krusial.
Menurut Ahmad, hasil penelitian yang dilakukan sejak 2018 menunjukkan bahwa mikroplastik tidak hanya ditemukan di kolom air sungai tetapi juga telah mengendap di sedimen dasar perairan. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pencemaran plastik telah berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.
Dirinya menjelaskan, mikroplastik juga ditemukan pada berbagai organisme perairan seperti ikan dan kerang yang ditangkap nelayan di wilayah Sungsang. Kondisi ini menunjukkan bahwa partikel plastik telah masuk ke dalam rantai makanan dan berpotensi berpindah ke tingkat trofik (rantai makanan) yang lebih tinggi.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal nasional terindeks Sinta 3 mengungkap bahwa mikroplastik di Sungai Musi berpotensi berikatan dengan zat pencemar lain, seperti logam berat dan pestisida. Ikatan tersebut diduga dapat meningkatkan tingkat toksisitas (suatu zat kimia) yang menyebabkan kerusakan atau efek merugikan pada organisme yang ditimbulkan terhadap lingkungan maupun makhluk hidup.
Ahmad menambahkan, dampak jangka panjang dari pencemaran ini pada akhirnya dapat dirasakan manusia sebagai konsumen akhir. Mikroplastik yang masuk melalui rantai makanan berpotensi terakumulasi di dalam tubuh manusia seiring waktu.
"Ikatan tersebut diduga dapat meningkatkan tingkat toksisitas (suatu zat kimia) yang menyebabkan kerusakan atau efek merugikan pada organisme yang ditimbulkan terhadap lingkungan maupun makhluk hidup," ujar Ahmad, Senin 8 Juni 2026.
Ditambahkan Ahmad, sejumlah penelitian internasional bahkan telah menemukan keberadaan mikroplastik dalam tubuh dan urin manusia. Temuan ini memunculkan kekhawatiran terhadap berbagai risiko gangguan kesehatan yang dapat muncul akibat paparan mikroplastik dalam jangka panjang.
Dimoment peringatan Hari Laut Sedunia diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta menjaga kebersihan sungai. Upaya tersebut dinilai penting untuk melindungi kesehatan manusia sekaligus menjaga kelestarian ekosistem perairan di Sumatera Selatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....