Makna Hari Raya Waisak: Meneladani Perjuangan dan Kebajikan Buddha

  • 01 Jun 2026 06:15 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Waisak memperingati tiga peristiwa suci: kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Buddha Gautama.
  • Umat Buddha merayakan Waisak dengan puja bakti, kegiatan sosial, dan berbagai tradisi keagamaan.
  • Waisak menjadi momentum meneladani kebajikan, keteguhan, dan ajaran Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.

RRI.CO.ID, Palembang – Umat Buddha di seluruh dunia merayakan Hari Raya Trisuci Waisak setiap tahun pada saat bulan purnama di bulan Waisak. Pada tahun 2026, perayaan Waisak jatuh pada Minggu 31 Mei 2026.

Dikutip dari laman resmi Kementrian Agama, istilah Waisak berasal dari kata Vaisakha dalam bahasa Sanskerta dan Vesakha dalam bahasa Pali yang merupakan nama bulan dalam kalender Buddhis. Dalam kalender Masehi, Hari Raya Waisak umumnya diperingati pada akhir April, Mei, atau awal Juni.

Waisak dikenal sebagai Hari Raya Trisuci karena memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama, yaitu kelahiran Pangeran Siddharta Gautama di Taman Lumbini pada tahun 623 SM, pencapaian Penerangan Sempurna di Bodh Gaya pada tahun 588 SM, serta wafatnya Buddha Gautama atau Maha Parinibbana di Kusinara. Menjelang perayaan Waisak, umat Buddha biasanya melaksanakan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, seperti membersihkan vihara, berziarah ke makam leluhur, serta melakukan bakti sosial.

Pada puncak perayaan, umat melaksanakan puja bakti tepat pada saat bulan purnama. Berbagai lomba dan pentas seni juga digelar untuk memeriahkan perayaan tersebut. Salah satu makna utama yang diperingati dalam Waisak adalah pencapaian Penerangan Sempurna oleh Buddha Gautama.

Peristiwa ini menjadi inspirasi bagi umat Buddha untuk senantiasa mengembangkan kebajikan dan menjalankan ajaran Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan Buddha menuju Penerangan Sempurna juga menjadi teladan tentang tekad dan semangat yang tidak pernah padam.

Dalam kisah kehidupannya, Buddha pernah terlahir sebagai Petapa Sumedha yang bertekad menjadi Buddha pada kehidupan mendatang. Setelah terlahir sebagai Siddharta Gautama dan mencapai Penerangan Sempurna, beliau mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan Dhamma dan membimbing banyak orang menuju jalan kebajikan.

Menjelang Maha Parinibbana, Buddha menyampaikan pesan yang hingga kini tetap relevan bagi umatnya, yakni agar senantiasa berjuang dengan penuh kewaspadaan karena segala sesuatu bersifat tidak kekal. Melalui perayaan Waisak, umat Buddha diajak untuk tidak hanya menjalankan tradisi keagamaan, tetapi juga meneladani sifat-sifat luhur Buddha, seperti keteguhan, semangat, kebijaksanaan, dan kasih sayang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....