Kampung Perigi Jadi Saksi Sejarah dan Tradisi Masyarakat Tepian Musi

  • 26 Mei 2026 23:30 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Kampung Perigi di kawasan 2 Ulu, Palembang, dipilih menjadi lokasi pelaksanaan “Masak Tepi Sungai 2026: Kopi & Roti” yang akan berlangsung pada 20 dan 21 Juni 2026. Kampung tua ini dipilih karena memiliki sejarah panjang terkait perdagangan kopi dan juga dinilai memiliki kekayaan sejarah, budaya, hingga tradisi masyarakat yang masih bertahan sampai sekarang.

Pendiri Sahabat Cagar Budaya, Robby Sunata, mengatakan, Kampung Perigi bukan hanya sekadar kawasan permukiman lama, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perdagangan kopi di Palembang.

“Kampung Perigi dulu merupakan tempat tinggal para pedagang kopi besar di Palembang. Jadi sangat sesuai dengan tema Masak Tepi Sungai tahun ini yaitu Kopi & Roti,” ujarnya dalam keterangan kepada RRI, Senin, 25 Mei 2026.

Menurut Robby, salah satu tokoh penting yang pernah tinggal di kawasan tersebut adalah Karim Azharie, seorang pedagang kopi yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno.

Ia menjelaskan, pada tahun 1942 Bung Karno pernah datang ke Palembang dan beristirahat di rumah Karim Azharie yang berada di Lorong Tangga Raja, Kampung Perigi. Rumah tersebut kini menjadi bagian dari jejak sejarah perjuangan nasional di Kota Palembang.

“Rumah itu memiliki nilai sejarah karena pernah menjadi tempat singgah Bung Karno ketika berada di Palembang,” katanya.

Robby juga menyebut, pada tahun 2008, Megawati Soekarnoputri sempat berkunjung ke rumah tersebut untuk mengenang perjalanan perjuangan ayahnya.

Selain memiliki sejarah panjang, Kampung Perigi juga masih mempertahankan kehidupan tradisional masyarakat Palembang. Di kawasan tersebut masih terdapat juru masak tradisional atau yang dikenal dengan sebutan “panggung” yang mempertahankan teknik memasak turun-temurun.

Tidak hanya itu, masyarakat Kampung Perigi juga banyak yang bekerja sebagai perajin songket, pembuat perahu getek, perajin aluminium, hingga pengrajin lidi nipah.

“Perigi masih menyimpan banyak tradisi yang hidup. Itu yang ingin kami perkenalkan kepada masyarakat,” ujar Robby.

Kampung Perigi juga dikenal memiliki kekayaan arsitektur tradisional Palembang. Empat jenis rumah tradisional seperti rumah rakit, rumah baghi, rumah limas, dan rumah gudang masih dapat ditemukan dalam kondisi yang baik.

Beberapa rumah tradisional tersebut nantinya akan dimanfaatkan sebagai lokasi diskusi dan kegiatan budaya selama Masak Tepi Sungai berlangsung.

Melalui kegiatan tersebut, Sahabat Cagar Budaya berharap masyarakat dapat lebih mengenal dan mencintai kekayaan sejarah, kuliner, serta budaya lokal Palembang yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....