Pentingnya Pendidikan untuk Meraih Masa Depan Gemilang
- 07 Mei 2026 08:35 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Fondasi pendidikan yang kuat diyakini akan menjadi kompas penentu keberhasilan seseorang dalam seluruh lini kehidupan di masa depan
- Sumatera Selatan menghadapi persoalan serius dengan jumlah anak putus sekolah yang mencapai sekitar 17.000 jiwa per tahun pada 2025
- Keterlibatan ibu sangat krusial dalam menjaga semangat belajar anak agar terus berlanjut hingga jenjang yang lebih tinggi
- Dunia pendidikan saat ini harus beradaptasi dengan kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang berfungsi sebagai alat bantu belajar, namun tetap memerlukan penyaringan agar memberikan manfaat positif
RRI.CO.ID, Palembang - Pendidikan bukan sekadar deretan angka di atas kertas ijazah, melainkan fondasi utama bagi generasi muda untuk menapaki masa depan. Dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, urgensi pemerataan akses dan kualitas pendidikan di Sumatera Selatan kembali menjadi sorotan utama guna mencetak sumber daya manusia yang unggul.
Akademisi sekaligus praktisi pendidikan dari Universitas Sjakhyakirti, Maulan Irwadi, menegaskan, warisan terbaik yang bisa diberikan kepada generasi mendatang bukanlah harta, melainkan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pendidikan yang baik akan menjadi kompas bagi seseorang dalam menjalani seluruh lini kehidupan.
"Bekal terbaik itu adalah pendidikan. Siapapun orang tua, sangat penting memberikan dasar pendidikan karena jika dasarnya baik, insyaallah ke depannya semua akan baik," ujar Maulan dalam acara Obrolan Komunitas di Studio Pro 1 RRI Palembang, Senin, 4 Mei 2026.
Namun, dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan nyata, terutama terkait angka putus sekolah yang masih cukup tinggi. Data menunjukkan bahwa di Sumatera Selatan, angka anak putus sekolah mencapai sekitar 17.000 jiwa per tahun pada 2025. Hal ini menjadi peringatan keras bagi para pemangku kebijakan agar sistem pendidikan mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Founder Desert Learning Center, Hermince Rugebregt, menyoroti bahwa peran keluarga, terutama ibu, merupakan kunci awal keberhasilan transformasi karakter anak. Ia menyebutkan bahwa sejarah telah membuktikan bagaimana akses pendidikan berkembang dari masa kolonial hingga era inklusif saat ini.
"Kita sebagai perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anak kita. Penting sekali bagi setiap anak untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang bagus agar harapan mereka tidak patah di tengah jalan," jelas Hermince .
Senada dengan hal itu, Regen Trisno Siddiq, seorang mahasiswa dari Universitas Sakia Kirti, memandang bahwa institusi pendidikan harus menjadi laboratorium kejujuran. Baginya, kecerdasan tanpa integritas hanya akan merugikan bangsa di masa depan. Ia berharap kampus dan sekolah tetap menjadi tempat yang merawat mimpi, bukan justru mematahkannya karena kendala ekonomi atau jarak.
Selain masalah integritas, pemerataan pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas kini mulai mendapatkan perhatian serius. Saat ini, pemerintah melalui kementerian terkait mulai mewajibkan fasilitas ramah disabilitas di perguruan tinggi sebagai syarat akreditasi, serta menyediakan wadah prestasi khusus bagi mahasiswa berkebutuhan khusus.
Memasuki era digital, kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga membawa dinamika baru. Meski menawarkan kemudahan sebagai alat bantu belajar, teknologi ini diibaratkan seperti dua sisi mata uang yang memerlukan kearifan dalam penggunaannya. Para pendidik diingatkan untuk terus membekali siswa dengan kemampuan memfilter informasi agar teknologi tetap menjadi pelayan bagi kemanusiaan, bukan sebaliknya.
Menutup diskusi, para pakar sepakat bahwa momentum pendidikan tahun ini harus menjadi titik balik untuk memastikan tidak ada lagi anak bangsa yang tertinggal. Melalui kolaborasi antara kejujuran sistem, peran keluarga, dan adaptasi teknologi, visi masa depan yang gemilang di Sumatera Selatan optimis dapat terwujud.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....