Menjelang Hari Susu Dunia 2026, Sudahkah Susu Menjadi Milik Semua?

  • 18 Apr 2026 16:51 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Menjelang peringatan Hari Susu Dunia 2026, berbagai kampanye tentang pentingnya konsumsi susu kembali digencarkan. Beragam kegiatan seperti seminar, promosi, hingga edukasi gizi mulai disiapkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Namun di balik semarak tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang perlu dijawab bersama. Apakah susu benar-benar telah menjadi kebutuhan yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Dokter Hewan Prov Sumsel, Dr.drh. Jafrizal mengungkapkan realitas di lapangan menunjukkan bahwa susu belum sepenuhnya terjangkau oleh semua orang. Bagi sebagian masyarakat, susu masih dianggap sebagai kebutuhan sekunder yang dibeli ketika memiliki kelebihan penghasilan.

"Kondisi ini mencerminkan adanya ketimpangan dalam akses terhadap sumber gizi penting. Padahal, susu memiliki peran besar dalam mendukung pertumbuhan anak dan kesehatan masyarakat secara umum," ujar drh Jafrizal, Sabtu 18 April 2026.

Susu bukan sekadar minuman pelengkap, melainkan sumber protein, kalsium, vitamin, dan energi. Kandungan tersebut sangat penting untuk menunjang pertumbuhan, menjaga kesehatan tulang, serta meningkatkan kualitas hidup.

Peringatan Hari Susu Sedunia setiap 1 Juni menjadi momentum global untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya konsumsi susu. Sejak pertama kali diperingati pada 2001, perayaan ini juga menyoroti peran sektor peternakan susu.

Ditambahkan Jafrizal, rendahnya konsumsi susu tidak hanya berkaitan dengan kurangnya edukasi. Dalam banyak kasus, persoalan utama justru terletak pada keterbatasan daya beli masyarakat.

Banyak keluarga memahami manfaat susu, tetapi tidak mampu membelinya secara rutin. Ketika kebutuhan pokok lebih mendesak, susu sering kali menjadi pilihan yang harus dikorbankan.

Di sisi lain, peternak sapi perah lokal juga menghadapi berbagai tantangan. Biaya produksi yang tinggi, keterbatasan modal, serta akses pasar yang belum optimal menjadi hambatan utama dalam meningkatkan produksi.

"Kondisi tersebut berdampak pada pasokan susu nasional yang belum stabil. Akibatnya, harga susu sulit ditekan sehingga semakin menyulitkan masyarakat berpenghasilan rendah untuk mengaksesnya," ucap drh Jafrizal.

Oleh karena itu, peringatan Hari Susu Dunia 2026 harus dimaknai sebagai momentum evaluasi kebijakan. Pemerintah perlu memastikan keseimbangan antara peningkatan produksi, perlindungan peternak, dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Ke depan, susu perlu dipandang sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia. Dengan akses yang merata, peningkatan kesejahteraan peternak, dan kebijakan yang tepat, susu dapat menjadi hak dasar masyarakat, bukan sekadar komoditas pasar.

Catatan: Berita ini telah mengalami perubahan pada foto utama karena tidak sesuai dengan isi berita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....