Balai Bahasa Sumsel dan Yayasan Islam Al-Fahd Gelar HBII 2026
- 20 Feb 2026 21:45 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang – Yayasan Islam Al-Fahd bersama Balai Bahasa Sumatera Selatan menggelar kegiatan Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) Tahun 2026. Acara berlangsung di Balai Riung Yayasan Islam Al-Fahd, Jumat, 13 Februari 2026. Ratusan siswa dari sekolah dasar dan sekolah menengah pertama hadir memadati lokasi acara.
Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan mendorong penguatan peran generasi muda dalam melestarikan bahasa ibu. “Bahasa ibu adalah bahasa yang pertama dipelajari di keluarga dan menemani tumbuh kembang anak sejak kecil,” ungkap Hadiah, Kasubbag Umum Balai Bahasa Sumatera Selatan, mewakili Kepala Balai.
Dalam sambutannya, Hadiah menambahkan bahwa keberagaman bahasa di Indonesia harus dijaga dengan baik. “Di tengah keberagaman bahasa, bahasa Indonesia hadir sebagai pemersatu bangsa. Menggunakan keduanya secara bijak adalah upaya melestarikan budaya dan menumbuhkan pendidikan inklusif,” jelasnya.
Sinergi antara Yayasan Islam Al-Fahd dan Balai Bahasa Sumsel diharapkan mampu menambah wawasan peserta tentang kebahasaan. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan keterampilan berbahasa serta membentuk generasi cerdas dan berkarakter.
Direktur Pendidikan Islam Al-Fahd, Mukhlisin, menyampaikan pesan bahwa peserta harus mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Mukhlisin berharap, kegiatan ini mampu memperkaya pengetahuan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa ibu.
Mukhlisin juga mendorong para guru Bahasa Indonesia mengikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). “Sertifikasi kebahasaan ini penting demi meningkatkan profesionalitas guru dan pelajar.” Katanya. Para siswa diharapkan aktif bertanya dan terlibat dalam setiap sesi diskusi yang berlangsung.
Kegiatan berlanjut dengan sesi “Kamus Masuk Sekolah,” yang memperkenalkan siswa pada dunia leksikografi. Para narasumber, Yulia Mashitoh, Dewi Sartika, dan M. Andri Zulfadli, menjelaskan bahwa kamus memuat entri dan makna kata, lengkap dengan contoh penggunaannya.
Para peserta diperkenalkan pada berbagai jenis kamus, mulai dari kamus ekabahasa, dwibahasa, hingga multibahasa. peserta juga belajar bahwa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memuat bahasa daerah, Inggris, Arab, Belanda, Melayu, dan Sanskerta, menggambarkan bahwa bahasa berkembang melalui pertukaran budaya.
Selanjutnya, siswa mengenal kosakata dari berbagai bahasa daerah di Sumatera Selatan, seperti ‘dide’ dan ‘ngape’. Melalui kegiatan ini, peserta menyadari bahwa bahasa daerah adalah warisan budaya yang membentuk identitas dan cara pandang penuturnya.
Dalam sesi praktik, siswa membaca dan menceritakan kembali cerita menggunakan bahasa daerah. Siswa juga memperkenalkan diri, seperti “Aku ni dilahirke di Palembang…”. “Ini menunjukkan bahwa dwibahasa hidup dalam keseharian,” ujar Yulia Mashitoh.
Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan berbicara dan membaca, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap bahasa membawa cerita dan jejak identitas. Para siswa belajar bahwa bahasa adalah sumber kekayaan budaya yang harus dilestarikan.
Di sore hari, pegawai Balai Bahasa Sumsel menulis kutipan sastra dalam bahasa ibu mereka. Pegawai Balai Bahasa Sumsel menempelkan kutipan yang ditulis di mading, memperlihatkan keberagaman bahasa yang mereka kuasai. “Bahasa ibu adalah warisan yang harus kita rawat,” ujar salah satu pegawai.
Kutipan sastra yang ditulis menggunakan surat ulu dan aksara Kaganga turut menghiasi mading. Kegiatan ini mengingatkan bahwa memperkuat bahasa bukan hanya tugas peserta didik, tetapi juga aparatur pembina bahasa.
Walau sempat terjadi pemadaman listrik, semangat peserta tetap menyala. Semua peserta sadar bahwa bahasa ibu tidak hanya sekadar warisan, tetapi juga penopang masa depan bangsa. Dengan begitu, bahasa ibu terus hidup dan berkembang di tengah tantangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....