WCC Palembang Tegaskan Stop Normalisasi Kekerasan dalam Pacaran
- 17 Feb 2026 10:06 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Kekerasan dalam pacaran (KDP) masih menjadi persoalan serius yang kerap tidak disadari, terutama oleh remaja dan perempuan muda. Bentuknya sering terselubung dalam perhatian berlebihan, kecemburuan, atau sikap posesif yang dianggap sebagai tanda cinta.
Staf Women's Crisis Center (WCC) Palembang, R.A. Nurul Furqon menjelaskan bahwa KDP mencakup berbagai bentuk kekerasan, tidak hanya fisik.
“Ada juga kekerasan psikis, sosial, ekonomi, hingga seksual yang sering tidak disadari korban,” ujarnya dalam dialog Pengarusutamaan Gender dan Inklusi Pro 1 RRI Palembang, Senin 16 Februari 2026.
Menurutnya, korban kerap tidak menyadari karena perilaku pelaku dibungkus manipulasi berupa kasih sayang atau perhatian. Akibatnya, tindakan seperti membatasi pergaulan, mengontrol aktivitas, hingga menghina secara verbal dianggap hal wajar dalam hubungan.
Nurul menambahkan, perilaku posesif dan cemburu berlebihan justru merupakan tanda hubungan tidak sehat atau toxic relationship. Hubungan yang sehat seharusnya dibangun atas dasar saling percaya, menghargai privasi, dan tidak ada dominasi salah satu pihak.
KDP juga dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental korban dalam jangka panjang. Tekanan emosional yang terus-menerus berpotensi memicu stres, depresi, bahkan tindakan bunuh diri apabila korban tidak memiliki ruang aman untuk bercerita.
Selain itu, kekerasan seksual dalam pacaran dapat menyebabkan kehamilan tidak diinginkan yang berujung pada putus sekolah dan berbagai risiko kesehatan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak KDP tidak hanya dirasakan secara psikologis, tetapi juga memengaruhi masa depan korban.
WCC Palembang mendorong korban untuk berani mencari bantuan dan tidak menganggap kekerasan sebagai urusan pribadi semata. Edukasi kepada masyarakat juga dinilai penting agar semakin banyak pihak memahami bahwa kekerasan dalam pacaran adalah pelanggaran yang harus dihentikan bersama.
Melalui peningkatan kesadaran dan keberanian untuk bersuara, generasi muda diharapkan mampu membangun hubungan yang sehat dan setara. Dengan demikian, normalisasi kekerasan dalam pacaran dapat dihentikan demi melindungi masa depan perempuan dan remaja.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....