Ngungga, Tradisi Lawas Pertemuan Bujang Gadis Pedamaran
- 07 Feb 2026 21:45 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Ogan Komering Ilir - Suku Pedamaran di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) memiliki tradisi lama yang berkaitan erat dengan pertemuan bujang dan gadis sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Tradisi tersebut dahulu menjadi ruang silaturahmi, hiburan, sekaligus ajang saling mengenal antar generasi muda dengan tetap menjunjung tinggi norma dan tata krama adat.
Tokoh budaya Pedamaran, Suparman Guluk, yang tinggal di Desa Pedamaran VI, Kecamatan Pedamaran, menjelaskan bahwa salah satu tradisi yang dikenal adalah Ngungga, yakni kegiatan bertandang para bujang ke rumah-rumah gadis saat momen Lebaran. Tradisi ini dilakukan secara bergiliran dari satu rumah ke rumah lainnya.
“Dulu, semakin banyak gadis di suatu rumah, semakin ramai bujang yang datang. Para bujang biasanya datang berdua, berpakaian rapi, dan duduk di tempat yang sudah disediakan oleh tuan rumah,” ujar Suparman.
Dalam pelaksanaannya, tradisi ngungga dijalankan dengan penuh etika. Para bujang dan gadis tidak duduk berdekatan, terlebih karena orang tua gadis juga berada di rumah. Di akhir kunjungan, bujang kerap memberikan uang secara sopan yang dimasukkan dibawa wadah kue (gelok) sebagai bentuk penghormatan. Meski kerap menjadi ajang perkenalan, tradisi ini tidak secara mutlak bertujuan mencari jodoh, melainkan lebih pada kebersamaan dan kegembiraan.
Selain ngungga, masyarakat Pedamaran juga mengenal tradisi keramaian bujang gadis, yang diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan seperti pantun, nyanyian, tukar selendang, hingga makan seberangan. Makan seberangan dilakukan dengan posisi duduk saling berhadapan antara bujang dan gadis dalam beberapa barisan, bisa mencapai puluhan hingga seratus orang peserta.
“Kalau sudah sampai makan seberangan, itu tandanya acara puncak. Biasanya ada tukar selendang sebelumnya, lalu makan bersama dengan tetap menjaga jarak dan sopan santun,” jelas Suparman, yang pernah menjabat sebagai ketua bujang pada masanya.
Ia menambahkan, seluruh kegiatan tersebut diatur oleh ketua bujang yang bertugas mengoordinasikan peserta, menyusun susunan panitia dan acara, serta menjaga ketertiban acara. Hiburan pada masa itu masih sangat sederhana, seperti pantun, nyanyian, dan musik dari kaset dengan pengeras suara seadanya.
Namun, seiring perkembangan zaman, banyak tradisi tersebut mulai ditinggalkan. Masuknya listrik, perubahan pola hiburan, serta pergeseran nilai sosial membuat tradisi ngungga dan acara keramaian bujang gadis kini jarang dijumpai.
“Sekarang sebagian besar sudah hilang, tergeser zaman. Padahal dulu itu wadah kebersamaan, hiburan, dan pembelajaran tata krama bagi anak muda,” ungkapnya.
Menurut Suparman, tradisi-tradisi tersebut merupakan bagian penting dari identitas budaya Suku Pedamaran yang perlu dikenang dan didokumentasikan, agar generasi muda tetap mengetahui nilai-nilai luhur yang pernah hidup di tengah masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....