Syukur dengan Bandingkan Disabilitas Dinilai Lukai Martabat
- 26 Jan 2026 22:32 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Membandingkan diri dengan penyandang disabilitas sebagai alasan bersyukur dinilai keliru dan melukai martabat. Cara pandang ini justru memperkuat stigma serta menciptakan jarak sosial dalam pertemanan.
Pernyataan itu disampaikan dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi di Pro 1 RRI Palembang, Sabtu 24 Januari 2026. Hadir sebagai narasumber Rizka Amalia dan Sonia Cahyani dari Rumah Disabilitas Palembang.
Sonia menyebut rasa syukur seharusnya lahir dari kesadaran pribadi, bukan dari membandingkan diri dengan keterbatasan orang lain. Ia menilai penyandang disabilitas bukan alat pembanding untuk menumbuhkan rasa syukur.
“Teman disabilitas ingin diperlakukan sebagai manusia utuh, bukan contoh kekurangan,” ujarnya. Ia menolak pandangan bahwa disabilitas dijadikan alat pengingat agar orang lain merasa lebih beruntung.
Rizka menjelaskan sikap tersebut kerap muncul dalam komentar maupun konten media sosial. Ia menyebut praktik itu sebagai inspiration porn yang merendahkan harga diri disabilitas.
“Banyak yang mengira niatnya baik, tapi justru menyakitkan,” katanya. Ia menegaskan penyandang disabilitas tidak butuh dikasihani, tapi dihargai dan dilibatkan.
Sonia menambahkan, perlakuan setara dalam pertemanan berarti berinteraksi secara wajar. Ia mengingatkan agar bantuan hanya diberikan saat diminta dan tidak menjadikan kondisi disabilitas sebagai bahan lelucon.
Keduanya menekankan inklusi sejati harus dimulai dari perubahan pola pikir. Lingkungan yang aman dan saling menghargai sangat penting untuk membangun kepercayaan diri disabilitas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....