Ki Gede Ing Suro dan Sejarah Islam di Palembang

  • 24 Jan 2026 22:31 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Masyarakat Palembang nyaris tak pernah asing dengan nama Ki Gede Ing Suro. Sosok legendaris ini dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah awal Islam di Palembang, sekaligus cikal bakal berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke-16.

Ki Gede Ing Suro merupakan bangsawan Demak yang hijrah ke Palembang dalam sebuah rombongan keluarga besar. Kedatangannya menandai fase penting perubahan arah peradaban Palembang, dari pengaruh Hindu-Buddha menuju Islam yang kelak berkembang menjadi kekuatan politik dan budaya.

Penggiat sekaligus pemerhati sejarah Palembang, Ketua Komunitas Pecinta Ziarah Muhammad Setiawan—akrab disapa Cek Wan—menjelaskan bahwa kejayaan Islam di Palembang dalam ranah politik tidak terjadi secara tiba-tiba.

“Palembang itu ketika Islam berjaya dalam bidang politik, itu diawali dengan kedatangan Ario Damar yang kemudian masuk Islam dan dikenal sebagai Ario Abdillah. Beliau merupakan bupati Majapahit yang diutus ke Palembang,” ujar Cek Wan kepada RRI, Jumat, 23 Januari 2026.

Menurut Cek Wan, setelah masa Ario Abdillah, barulah datang rombongan dari Demak yang memiliki ikatan darah dan sejarah dengan Palembang.

“Rombongan tersebut memang sudah lama bermukim di Jawa. Kalau dikulik, mereka masih orang Palembang. Ada tarikan silsilah dengan Raden Fatah dan Raden Kusen,” ungkapnya.

Rombongan keluarga ini berjumlah sekitar 20 hingga 24 orang. Mereka hijrah ke Palembang dengan tujuan membangun kekuasaan Islam yang baru, meski pada fase awal belum berbentuk kesultanan.

“Kedatangan mereka untuk merintis kekuasaan dalam arti kerajaan baru, yang kelak menjadi cikal bakal kerajaan Palembang berbasis Islam,” jelas Cek Wan.

Berdasarkan catatan sejarah dan tutur yang berkembang, rombongan tersebut dimakamkan di kawasan 1 Ilir Palembang Lama. Salah satu di antara mereka adalah Ki Gede Ing Suro, yang kemudian dikenang sebagai pendiri awal Kesultanan Palembang Darussalam.

Ki Gede Ing Suro tidak hanya memperdalam ajaran Islam, tetapi juga menjadikannya fondasi utama bagi tatanan kerajaan baru di Palembang. Ia dimakamkan di sebuah kompleks pemakaman yang kini dikenal sebagai Taman Purbakala Ki Gede Ing Suro atau Geding Suro, di Kelurahan 1 Ilir Palembang.

Menariknya, kompleks makam ini berdiri di atas pondasi bangunan candi peninggalan Hindu-Buddha. Arsitektur tersebut menjadi simbol kuat transisi budaya, sekaligus penegasan identitas Islam yang menggantikan tradisi lama tanpa menghapus jejak sejarahnya.

Kini, kompleks makam Ki Gede Ing Suro telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Selain menjadi tempat ziarah, kawasan ini juga berkembang sebagai destinasi wisata religi dan sejarah yang menyimpan narasi panjang tentang perjalanan Palembang menuju era Islam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....