Dua Penyair Yogyakarta Warnai Panggung Sastra Palembang
- 17 Jan 2026 10:03 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Geliat sastra di Kota Palembang kembali menunjukkan denyutnya. Melalui kegiatan baca puisi bertajuk Rindu Dua Penyair, Dewan Kesenian Palembang (DKP) membuka ruang pertemuan gagasan antara penyair nasional dan komunitas sastra lokal.
Kegiatan yang digelar di Gedung Kesenian Palembang, Sumatera Selatan, Jumat, 17 Januari 2026, menghadirkan dua penyair asal Yogyakarta, Joko Pranoto dan Afnan Malay. Acara ini disambut antusias seniman, pegiat sastra, mahasiswa, hingga masyarakat umum, lewat parade pembacaan puisi yang berlanjut pada sarasehan karya.
Kepala Bidang Kesenian dan Perfilman Dinas Kebudayaan Palembang, Heru Setia Budi, menegaskan, pentingnya kegiatan lintas daerah sebagai sarana pertukaran pengetahuan seniman.
“Ini bukan sekadar panggung baca puisi. Ada proses transfer gagasan dan pengalaman yang penting untuk meningkatkan kapasitas seniman dan menjaga keberlanjutan ekosistem kesenian,” ujar Heru.
Menurutnya, sinergi antara Dewan Kesenian dan Dinas Kebudayaan menjadi kunci dalam menghadirkan program-program inovatif yang berkelanjutan, tidak hanya di sastra, tetapi juga cabang kesenian lain.
Penyair Joko Pranoto menilai kegiatan tersebut sebagai bukti bahwa puisi tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman. Tantangan berikutnya, kata dia, adalah menyiapkan generasi penerus melalui jalur pendidikan yang tepat.
“Saya menolak anggapan bahwa puisi itu tanpa makna. Puisi justru memberi arti dan bisa dikembangkan sebagai bagian seni pertunjukan yang lebih megah,” kata Joko.
Ia juga mendorong pengembangan puisi ke arah industri kreatif berkelanjutan. Menurutnya, Palembang memiliki potensi menjadi titik awal penguatan industri puisi di Indonesia.
“Kegiatan seperti ini seharusnya terus diperbesar skalanya, agar jangkauan sastra makin luas dan menyentuh daerah lain,” tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan perwakilan Balai Bahasa Sumatera Selatan, Fifi Firanti. Ia menilai kegiatan tersebut strategis dalam upaya pemartabatan bahasa Indonesia dan penguatan sastra daerah.
“Sastra tidak hanya lahir dari buku. Ia tumbuh dari pertemuan, pembacaan, dan kebersamaan antarkomunitas,” ujarnya.
Sementara itu, penyair Afnan Malay menekankan pentingnya konsistensi dalam berkesenian. Menurutnya, ruang-ruang puisi harus terus digaungkan lintas generasi agar regenerasi penyair tetap terjaga.
“Usia tidak menghentikan proses kreatif. Selama fokus dan terus bergerak, puisi akan menemukan jalannya,” kata Afnan, yang mengaku kerap diundang tampil di berbagai daerah Indonesia hingga luar negeri.
Ketua DKP Palembang, M Nasir, menyebut kegiatan Rindu Dua Penyair tidak berhenti pada pembacaan puisi semata. Diskusi dan pembedahan proses kreatif menjadi bagian penting dari agenda tersebut.
“Dialog ini penting untuk refleksi kondisi kesenian Palembang dan Yogyakarta. Pengalaman penyair tamu diharapkan memperkaya ekosistem sastra lokal,” jelasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....