Talang Keramat, Jejak Sejarah dan Makna Namanya
- 08 Jan 2026 20:00 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Talang Keramat menjadi salah satu nama kawasan yang akrab di telinga warga Palembang. Wilayah ini berada di kawasan Sako–Kenten dan kini berfungsi sebagai jalan utama penghubung antara Jalan Pangeran Ayin dan Jalan Tanjung Si Api-api. Namun, di balik fungsinya sebagai jalur lalu lintas strategis, Talang Keramat menyimpan jejak sejarah dan kisah masa lalu yang panjang.
Penggiat sejarah sekaligus Ketua Komunitas Pecinta Ziarah, Muhammad Setiawan atau akrab disapa Cek Wan, mengungkapkan, nama Talang Keramat berasal dari dua kata yang memiliki makna tersendiri. “Talang secara umum berarti tempat yang tinggi, tapi tidak terlalu tinggi seperti bukit,” ujar Cek Wan saat dikonfirmasi RRI, Minggu, 4 Januari 2026.
Sementara itu, kata keramat memiliki makna yang lebih lekat dengan hal-hal sakral. “Kalau mendengar kata keramat, yang terbayang biasanya tempat yang disakralkan, lebih spesifik lagi makam. Jadi Talang Keramat dinamakan demikian karena di kawasan itu terdapat kuburan yang dikeramatkan warga,” jelasnya.
Menurut Cek Wan, kawasan Talang Keramat memang dikenal sebagai lokasi pemakaman tokoh-tokoh yang dihormati masyarakat setempat sejak lama. “Di Talang Keramat terdapat makam-makam tokoh yang dikeramatkan, seperti Syech Ali Akbar sebagai tokoh utama. Ada juga makam Pangeran Ayin, Panglima Kumbang Darat, Panglima Kumbang Laut, makam putri kembar, serta beberapa makam lain yang sudah tua dan kuno meski identitasnya tidak lagi terdeteksi,” ungkapnya.
Mengenai siapa sebenarnya tokoh yang dimakamkan di kawasan tersebut, Cek Wan menyebut terdapat beberapa versi cerita yang berkembang di masyarakat. Salah satunya berasal dari legenda yang tercatat dalam katalog Dinas Kebudayaan Sumatera Selatan serta buku Pokok-Pokok Kebudayaan Kabupaten Banyuasin.
Versi legenda itu menceritakan sepasang suami istri yang lama tidak dikaruniai anak. Mereka kemudian bernazar, jika memiliki anak meski berwujud seperti buaya, tidak menjadi persoalan. Anak tersebut digambarkan memiliki kesaktian di laut dan darat, namun akhirnya tewas dalam pertarungan dengan kesatria dari kampung tetangga. Setelah meninggal, wujudnya kembali menjadi buaya dan dimakamkan di salah satu makam di Talang Keramat.
Namun, ada pula versi lain yang dinilai lebih mendekati fakta sejarah. “Versi kedua masih berupa cerita tutur, tapi yang dimakamkan diyakini adalah Syech Ali Akbar, yang oleh masyarakat setempat dijuluki Mbah Jangkung,” kata Cek Wan.
Julukan tersebut, menurutnya, merujuk pada ukuran makam yang sangat panjang. “Makamnya panjang, menandakan beliau bertubuh besar dan tinggi. Syech Ali Akbar dikenal sebagai ulama dan tokoh penyebar agama Islam di wilayah itu, memiliki banyak pengikut. Ini mendekati kebenaran karena bentuk makamnya adalah makam muslim,” jelasnya.
Kini, Talang Keramat tak hanya menjadi jalur penghubung penting di Palembang, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kawasan perkotaan modern kerap berdiri di atas lapisan sejarah, legenda, dan jejak spiritual yang diwariskan dari masa lalu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....