Sejarawan: Berdirinya Kedatuan Sriwijaya Berpusat di Palembang

  • 13 Nov 2025 20:10 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Sejumlah sejarawan dari Sumatera Selatan (Sumsel) menegaskan bahwa awal berdirinya Kedatuan Sriwijaya berpusat di Palembang. Pernyataan ini sekaligus membantah teori yang disampaikan Prof. Dr. Agus Aris Munandar dari Universitas Indonesia, yang sebelumnya menyebut bahwa pusat Sriwijaya berada di Jambi.

Menurut Prof. Dr. Farida R. Wargadalem, sejarawan Universitas Sriwijaya, bukti paling kuat keberadaan pusat pemerintahan Sriwijaya di Palembang bersumber dari tiga prasasti utama, yaitu Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Prasasti Talang Tuwo (684 M), dan Prasasti Telaga Batu.

“Dalam ilmu sejarah, sumber tertulis adalah bukti yang paling valid. Ketiga prasasti ini saling berkaitan dan ditemukan di wilayah Palembang, memperlihatkan kesinambungan aktivitas pemerintahan dan sosial di kawasan tersebut,” jelasnya di Palembang, Kamis (13/11/2025).

Farida menambahkan, struktur pemerintahan yang tertera dalam Prasasti Telaga Batu menunjukkan Palembang sebagai pusat kekuasaan Sriwijaya. Selain itu, temuan Prasasti Baturaja juga memperkuat bahwa aktivitas politik dan sosial Sriwijaya terjadi di wilayah Sumatera bagian selatan.

Ia menyebutkan, kondisi geografis Palembang yang berair menjadikan transportasi sungai sangat penting sejak masa lampau. Hal ini juga mendukung berkembangnya pusat pemerintahan di tepi Sungai Musi.

“Kalau kita bicara tentang Sriwijaya, maka kita sedang berbicara tentang Palembang,” tegas Prof. Farida.

Sementara itu, Dr. Dedi Irwanto, M.A, Ketua Pusat Kajian Sejarah Sumatera Selatan (Puskass) Universitas Sriwijaya, menyampaikan bahwa bukti historis dan arkeologis sangat kuat mengarah pada Palembang.

“Prasasti Kedukan Bukit mencatat pendirian wanua Sriwijaya pada tahun 682 M oleh Dapunta Hyang. Sementara Prasasti Telaga Batu menunjukkan struktur pemerintahan yang lengkap di lokasi yang kini berada di sekitar PT Pusri Palembang,” jelasnya.

Ia menambahkan, temuan artefak di dasar Sungai Musi seperti arca, keramik kuno, dan mata uang Dinasti Umayyah menunjukkan Palembang sebagai pusat peradaban dan perdagangan internasional.

“Benda-benda tersebut menjadi bukti nyata interaksi lintas budaya di masa Sriwijaya,” ujarnya.

Menanggapi teori yang menyebut Candi Muara Jambi sebagai pusat Sriwijaya, Dedi menilai hal itu tidak sejalan dengan kronologi sejarah.

“Candi Muara Jambi berasal dari abad ke-11, sedangkan masa kejayaan Sriwijaya berlangsung sejak abad ke-7 hingga ke-10. Jadi, secara kronologis tidak tepat,” tambahnya.

Sementara itu, Dr. Kemas Ar Panji, S.Pd., M.Si dari Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang menilai klaim bahwa Jambi sebagai pusat Sriwijaya tidak didukung bukti yang kuat.

“Bukti tertulis seperti prasasti abad ke-7 menunjukkan Palembang sebagai pusat pemerintahan awal Sriwijaya. Sumber tertulis memiliki nilai sejarah tertinggi dibanding bukti lain,” jelas anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang ini.

Menurut Kemas, meskipun banyak peninggalan arkeologis di Palembang yang telah rusak akibat faktor alam dan pembangunan, bukti-bukti yang ada masih cukup kuat.

“Bangunan pada masa Sriwijaya sebagian besar terbuat dari kayu dan bata merah, sehingga tidak bertahan lama. Namun, ekskavasi arkeologi telah menunjukkan jejak kuat peradaban Sriwijaya di Palembang,” ujarnya.

Ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa pada masa-masa selanjutnya, pusat kekuasaan Sriwijaya pernah berpindah ke wilayah lain.

“Mungkin saja pada abad ke-11 hingga ke-13 pusat pemerintahan berpindah ke Jambi. Namun, peradaban Sriwijaya bermula dari Palembang,” tegasnya.

Sebelumnya, dalam Seminar Nasional “Kedigdayaan Melayu Jambi” yang dibuka Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani, Sabtu (8/11/2025), Prof. Agus Aris Munandar dari UI mengemukakan teori bahwa ibu kota Sriwijaya berlokasi di Jambi.

Namun, pernyataan tersebut langsung mendapat tanggapan dan bantahan dari para sejarawan Sumsel yang menilai argumentasi itu tidak sesuai dengan data historis dan arkeologis yang telah mapan.

Dengan bukti-bukti prasasti, artefak, dan catatan sejarah yang telah diakui para ahli, sejarawan Sumatera Selatan sepakat bahwa Palembang merupakan pusat awal berdirinya Kedatuan Sriwijaya, peradaban maritim besar yang pernah menguasai jalur perdagangan Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga ke-10 Masehi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....